Author : Alexandra

17 posts

Seseorang yang selalu berorientasi ke depan, tentunya tidak lepas dari introspeksi dan analisa terhadap berbagai aspek kehidupan ini, segala keputusan yang diambilnya, termasuk menganalisa dirinya sendiri. Kehidupan ini ibarat membangun rumah, tentunya perlu tahu di mana harus meletakkan landasannya yang kokoh, juga perlu menghitung kemampuan anggaran, kekuatan diri sendiri untuk menanggung semua ini, sampai bahan-bahan yang diperlukan, termasuk siapa yang akan mengerjakan pembangunan rumah itu dan seberapa lama waktu yang sebenarnya dibutuhkan sampai rumah itu pasti selesai didirikan. Ada yang mengajukan Analisis SWOT untuk analisa keputusan bisnis. Akan tetapi, bila direnungkan kembali, sebenarnya aspek lain dari kehidupan ini juga memerlukan perhitungan dan analisa matang yang serupa. Jadi Analisis SWOT sebenarnya juga dapat diterapkan untuk menganalisa diri sendiri dan progress diri. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Anda? Pernah mencoba menganalisa diri sendiri dengan Analisis SWOT? Bagi para pengambil keputusan, singkatan ini tentunya tidak asing buat Anda. Berikut ini merupakan definisi Wikipedia tentang SWOT:
Pada masa kini dengan teknologi yang terus berkembang pesat, apalagi di kota-kota besar dengan berbagai gadget komunikasi yang bertebaran bahkan dengan harga terjangkau, pembicaraan jarak jauh dengan orang lain sudah jauh lebih mudah ketimbang masa-masa sebelumnya. Begitu pula komunikasi melalui telepon, bisa dikatakan bahwa sebagian besar orang di kota besar lebih akrab dengan telepon genggamnya …
Mempunyai motivasi, semangat, antusiasme, perasaan berkobar-kobar, penuh vitalitas, energik, optimis, berapi-api dalam melakukan aktivitas dalam hidup sehari-hari, tentunya akan menyenangkan bagi yang menjalaninya, apalagi ketika target atau tujuan yang diincar akhirnya tercapai juga. Kepuasan yang dirasakan tentunya tidak terucapkan oleh kata-kata. Akan tetapi, ketika hal sebaliknya terjadi, ketika seseorang mengalami hambatan internal yang menundanya dalam menjalani aktivitasnya, bahkan sekalipun aktivitas itu merupakan yang disukainya, maka perasaan stress dan tidak menentu mulai bermunculan, apalagi jika sebelumnya orang itu sudah memasang target tertentu yang akhirnya terus tertunda, dan tertunda. Rencana dan rencana mungkin sudah banyak yang dibuat, tetapi pelaksanaan selalu tertunda dan tertunda. Pola seperti ini akan memicu stress dan pada akhirnya mengarahkan orang itu menuju rasa frustrasi, yang justru membuatnya menjadi semakin tidak bersemangat. Ini bisa terjadi karena mood dan jiwa seseorang tidak selamanya berada pada kondisi puncak. Akan ada saat-saat di mana seseorang mengalami penurunan semangat dan motivasi dalam melakukan aktivitasnya, kebanyakan karena mulai merasakan kelelahan akibat terkuras, kebosanan, atau hal-hal lainnya yang merupakan masalah dari dalam diri orang bersangkutan. Akhirnya reaksi orang itu menjadi melambat. Tentunya, hal ini harus segera diatasi supaya tidak berlarut-larut. Kelelahan bisa diatasi dengan istirahat. Kebosanan bisa diatasi dengan mengalihkan perhatian kepada sesuatu lainnya untuk penyegaran. Begitu pula masalah lainnya. Setelah masalah-masalah tadi teratasi, bagi kebanyakan orang masih mudah untuk kembali melanjutkan aktivitas dan mengejar targetnya. Namun ada satu biangkerok penghambat diri yang sebenarnya berbahaya, tetapi paling banyak diremehkan orang: kemalasan.
Ada kalanya dalam kehidupan, pekerjaan, tugas, ataupun hal lainnya dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja mengalami perasaan "terkuras", yang kemudian mengarah kepada kebuntuan ide, atau bila berkepanjangan bahkan sudah sampai masuk kondisi "mental block". Suatu kondisi yang mirip "writer block" bagi para penulis, tetapi cakupannya berbeda. Saat hal semacam ini tiba-tiba saja terjadi, bila berlangsung dalam waktu singkat, mungkin tidak terlalu masalah, karena hanya perlu dibarengi dengan istirahat sebentar atau refreshing sesaat, dan kemudian ide-ide segar akan bermunculan kembali dalam sekejap mata, pikiran tercerahkan kembali, perasaan stress mungkin juga sudah terangkat dan hilang, lalu aktivitas dan kreativitas kembali lancar. Tetapi bagaimana bila kebuntuan itu sampai berlarut-larut melebihi jumlah jam, hari, atau bahkan hitungan minggu dan bulan? Tentunya tidak menyenangkan sama sekali bagi kita. :(
Hidup ini memang singkat dan hanya sekali. Jangan sampai Anda lupa untuk rehat sejenak, untuk memberi waktu bagi jiwa, hati dan pikiran Anda sendiri.
PAGE TOP