Buah yang Jatuhnya Benar-benar Tak Jauh Dari Pohonnya

Ada kalimat terkenal “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” sehingga sebagai orang tua, sebaiknya berhati-hati dalam hidup sehari-hari, karena kecenderungan anak akan mengikuti “teladan” orang tuanya.

Kisah berikut ini mungkin lebih tepat disebut sebagai buah yang jatuhnya benar-benar tak jauh dari pohonnya. Tidak untuk dicontoh, tidak untuk ditiru, berhubung ini bukan teladan. :9

Ada seorang pria yang bekerja sebagai petugas keamanan untuk suatu perusahaan. Karena sudah bertahun-tahun bekerja di sana, akhirnya sang pimpinan perusahaan memberikan kepercayaan penuh kepadanya, termasuk mengangkatnya menjadi kepala petugas keamanan.

Belakangan, saat anaknya duduk di bangku sekolah dasar, biaya sekolah sang anak pun ikut disubsidi oleh perusahaan tersebut. Nah, ketika surat keterangan biaya sekolah itu hendak diajukan, ternyata pria itu menyuruh anaknya untuk mengubah nilai biaya sekolah yang dibutuhkannya.

“Jangan tulis angka yang pas-pas dengan besar biaya sekolahmu. Lebihkan nilainya. Naikkan sedikit angkanya jadi sekian,” kata pria itu kepada sang anak.

“Tapi, Pak, bukannya butuh biaya sekolah cuma sekian?” tanya sang anak bingung.

“Sudah, tuliskan saja angka yang Bapak suruh tadi!” jawab si ayah.

Jadi, akhirnya sang anak yang polos itu pun menuliskan angka yang lebih besar dari nilai biaya sekolah yang semestinya, di surat keterangan itu. Oleh sang ayah, surat keterangan itu kemudian diajukan kepada perusahaan tempat ia bekerja sebagai petugas keamanan selama ini.

Singkat kata, permohonan diterima, dana pun didapat. Oleh sang ayah, si anak pun diberikan jatah uang sesuai dengan biaya sekolah yang dibutuhkannya.

Lalu ke mana sisa uang tadi? Ternyata sisa uang subsidi tadi, dikantongi oleh sang ayah sendiri, sambil bersiul-siul pula. Kejadian ini disaksikan oleh sang anak, yang tentu saja sudah diperintahkan oleh sang ayah supaya tutup mulut dan tidak memberitahukan hal itu kepada siapapun.

Singkat kata, ketika sang anak mendapatkan tagihan biaya sekolah yang berikutnya, pola yang serupa berulang. Oleh sang ayah, ia tetap disuruh menulis angka yang lebih besar dari nilai tagihan biaya yang semestinya. Dan lagi-lagi, sisa dana kucuran dari perusahaan dikantongi lagi oleh sang ayah. Hal ini terus berlangsung sampai sang anak lulus sekolah.

Tak terasa waktu pun berlalu. Bertahun-tahun kemudian, perusahaan itu melebarkan sayap dan membuka perusahaan baru yang khusus menyediakan outsourcing jasa keamanan. Oleh pimpinan perusahaan, sang ayah tadi ditunjuk menjadi manager di perusahaan baru itu.

Singkat kata, ketika si anak lulus sekolah, kehidupan keluarga mereka juga sudah cukup mapan. Biaya pendidikan SMU sang anak juga sudah tidak lagi memerlukan subsidi. Biaya kuliah juga sudah tidak ada masalah lagi, karena sang ayah sudah punya kemampuan ekonomi untuk membiayai kuliah sang anak.

Akan tetapi, berhubung sudah menjadi seorang mahasiswa, biaya kuliah sang anak hanya ditanggung sebagian oleh si ayah. Sang ayah beralasan bahwa sudah waktunya si anak belajar untuk hidup mandiri dan mulai berjuang untuk diri sendiri. Jadi oleh sang ayah, si anak disuruh untuk bekerja sambilan demi menanggung separuh biaya kuliah, sedangkan separuhnya lagi baru disubsidi oleh sang ayah. Hal ini pun disepakati oleh mereka berdua.

Suatu hari, sang ayah terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga ia meminta anaknya untuk membantu menarik uang melalui salah satu ATM pada bank terdekat, dan menyerahkan kartu ATM-nya kepada sang anak.

Tak lama kemudian, sang anak pun kembali ke kantor ayahnya, dan menyerahkan amplop coklat berisi uang yang dimaksud, beserta kartu ATM sang ayah dan kertas bukti transaksi penarikan dana itu. Sang ayah memeriksa jumlah uang dan bukti transaksi itu, lalu mengangguk. Sang anak pun pamit untuk kembali kuliah.

Dua hari kemudian, ketika si ayah akhirnya mempunyai waktu luang, ia pun pergi ke bank untuk mencetak buku tabungannya. Akan tetapi, saldo terakhir yang tertera pada buku tabungannya itu membuatnya terbingung-bingung.

Tidak puas dengan saldo terakhir versi print out pada buku tabungan – yang nilainya kurang dari perkiraannya – pria ini pun protes kepada pihak bank.

Selidik punya selidik, ternyata penyebab selisih saldo terakhir ada pada transaksi penarikan dana ATM dua hari sebelumnya. Pria itu bersikukuh kepada pihak bank, bahwa dana yang ditarik lewat ATM pada hari itu hanya sekian, tidak sampai sebesar yang tercetak pada buku tabungan tersebut.

Akhirnya pihak bank memutarkan video rekaman CCTV untuk transaksi ATM dua hari yang lalu itu. Inilah kejadian yang direkam oleh CCTV itu:

Sang anak berada di ATM pada hari itu, memasukkan kartu ATM sang ayah, lalu menekan-nekan tombol ATM itu. Uang dan slip transaksi ATM itu kemudian dimasukkan ke dalam amplop berwarna coklat.

Sang anak masih kembali menekan-nekan tombol ATM, uang keluar lagi beserta slip transaksi kedua. Namun kali ini, oleh sang anak, uang dan slip transaksi kedua ini dimasukkan ke dalam kantong bajunya sendiri.

Akhirnya kartu ATM keluar dan dicabut oleh sang anak, yang kemudian sambil bersiul-siul meninggalkan ATM itu.

Melihat rekaman CCTV itu, sang ayah terhenyak dan hanya bisa mengucapkan sumpah serapah di dalam hatinya.

Alexandra

Penulis at RehatSejenak.com
nggg ... sepertinya si Imut-imut yang satu ini kelupaan memperkenalkan dirinya sendiri. /(=.=!)__

Latest posts by Alexandra (see all)

6 Comments

  1. jadi banyak “gayus” deh dimana mana.
    ternyata tidak hanya pejabat yang korupsi, orang tua dan mahasiswa pun bisa korupsi.

    • Sendal Jepit says:

      berarti penangkal awal budaya korupsi harus dimulai dari tingkat keluarga … :siul

  2. memang benar2 jatuh dari pohonnya soalnya mirip dgn tingkah polah orang tua jaman sekarang

    • Sendal Jepit says:

      dan juga memprihatinkan :cd

    • hanifa says:

      mau gimana lagi… kan anak belajar dari ortu :siul

    • Sendal Jepit says:

      dengan kata lain, tidak gampang jadi orang tua … :P

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TrackBack URL

http://rehatsejenak.com/buah-yang-jatuhnya-benar-benar-tak-jauh-dari-pohonnya.htm/trackback

PAGE TOP