Buku Apa Yang Anda Baca?

Sebenarnya saya tidak tahu apakah seharusnya saya menulis artikel yang satu ini, … tapi sepertinya boleh juga untuk berbagi refleksi diri. Barangkali saja saat Anda membaca ini, Anda jadi turut mendapat pemahaman lebih mendalam tentang diri Anda sendiri, minat Anda, bahkan cara Anda menggali berbagai hal sepanjang hidup Anda, yang tentunya diharapkan akan bisa mendukung majunya pencapaian Anda dalam kehidupan ini.

Sebenarnya trigger penulisan artikel ini tidak disengaja. Seseorang yang saya kenal, mengetahui tentang kebiasaan saya terhadap buku-buku dan bacaan. Bila Anda pernah mengunjungi halaman About situs ini, Anda mungkin sudah menyadari bahwa saya ini seseorang yang seringkali ‘tersesat’ di tengah tumpukan dan rak-rak buku, entah itu perpustakaan (terutama semasa masih sekolah dan kuliah), koleksi sendiri (atau punya kerabat, ketika berkunjung ke rumahnya), maupun toko-toko buku.

Nah, mungkin jadi ada pertanyaan: Buku apa yang dibaca dari sana? :)

Ngomong-ngomong, tentang kata ‘tersesat’ tadi maksudnya begini:
begitu sudah nyebur ke lautan buku, saya betul-betul jadi lupa waktu, sehingga setiap kali harus ada yang calling saya, atau saya sendiri harus mengeset kapan alarm handphone harus berbunyi, supaya saya teringat untuk keluar dari belantara buku itu. Sampai pernah kejadian, ada satu toko buku yang saya kunjungi, sampai harus menyiarkan pengumuman bahwa toko akan segera ditutup. Saat itu saya baru sadar bahwa waktu sudah mendekati pukul 9 malam. doh! :cd

Buntut-buntutnya seorang kawan pernah sampai penasaran, sebenarnya buku-buku apa saja yang saya baca. Setahu dia, di rumah juga masih menumpuk buku-buku yang sudah saya koleksi, bahkan ada di antaranya yang masih belum saya baca; jadi buku di rumah saja belum selesai dilahap, tapi kalau jalan-jalan, kunjungan ke toko buku ya tetap saja dilakoni. Jadi menurut dia, saya ini termasuk maruk soal buku.

Iya kali, ya? Kayanya iya, soalnya cara saya baca buku pun ‘multitasking’. :amazed:

Dan kalau mau jujur bicara, sampai otak saya ini nantinya ‘expired’ pun, masih sangat banyak buku-buku yang bertebaran di luar sana yang belum pernah saya baca (belum termasuk e-book yang bertebaran di dunia maya). Dengan waktu yang masih ada ini, berapa banyak buku yang akan ‘berjodoh’ dengan saya ini tergantung kesempatan, juga kemampuan mata dan otak saya untuk mencerna itu semua. Jadi kalau benar-benar mau dibilang maruk (dan jika punya dana cukup), maunya sih sekalian saja beli toko bukunya sekaligus. Itung-itung sambil memuaskan kelaparan saya terhadap buku-buku, bisa sekalian dapat penghasilan juga dari jualan buku-buku, gitu lho. Hehehe …

Oke, balik lagi ke topik tadi. :D

Intinya begini, ada banyak buku yang bertebaran di luar sana, sampai-sampai seorang maniak buku seperti saya ini kalau nantinya sudah bongkok, ubanan, mungkin juga sudah mencapai ‘garis finish’, masih belum sanggup melahap itu semua. Buku-buku baru akan terus bermunculan, buku-buku lama yang belum pernah dikenal generasi sekarang juga mungkin akan dicetak ulang dan membanjiri market buku yang ada.

Bagi seseorang yang tidak terlalu gandrung akan buku maupun bacaan, mungkin pertanyaan ini akan terus bergaung di benaknya tentang orang-orang yang suka buku: “Segitu maniaknya sama buku, memangnya buku apa sih yang dibaca?” Saya jadi teringat kepada orang rumah, yang kadang-kadang sampai protes sewaktu saya bawa buku baru lagi pulang ke rumah. Begini katanya, “Memangnya gak bisa dibaca di sana aja, sampai harus beli segala?” :nohope:

Nah, kalau sudah ditanya begitu, ini benar-benar menggelitik buat saya. Setelah saya merenung kembali, saya malah tercengang sendiri: Lho, ternyata begini ya pertualangan saya di rimba buku? :kagets:

Buku apa sih yang dibaca?

Nah, itu tergantung situasi dan kondisi. :P

  1. Ada saatnya saya cuma berjalan menyusuri rak-rak atau panggung buku yang ada. Jadi dari buku-buku bertema ringan sampai yang berat, saya berjalan saja melalui rak-rak itu sambil melihat-lihat. Kalau kebetulan judul dan tampilan covernya langsung ‘nyetrum’ bagi saya, buku itu saya ambil untuk ditengok lebih lanjut.
    Untuk yang toko buku, jika kebetulan ada yang tidak disegel plastik, langsung saya preview di tempat. Tapi kalau bukunya disegel, ya apa boleh buat, terpaksa saya lupakan dulu. ;)

  2. Ada waktunya ketika saya memang sedang mengincar judul buku yang itu, saya langsung menuju rak yang berkategori demikian. Kalau bukunya ketemu dan bisa dibuka, ya saya baca di tempat. Kalau tidak bisa dibuka alias masih dibungkus plastik, nah, berhubung memang sudah jadi buku incaran saya: bila memang saya tahu itu layak dikoleksi, saya beli.
    Biasanya buku-buku ini bisa jadi incaran karena ada orang lain yang merekomendasikan untuk dibaca.
    :cendol

  3. Pada waktu lainnya, saya memang sedang mencari buku yang membahas tentang hal yang ingin saya ketahui / pelajari. Pada saat saya preview isinya, mungkin bukan buku itu yang sebenarnya saya butuhkan, tetapi entah kenapa saya merasa harus membelinya untuk disimpan dulu di rumah.
    Dan selama ini, yang saya alami adalah, buku tersebut memang berguna beberapa tahun kemudian. LOL. Ya, beberapa tahun kemudian. Apakah saya kecepatan beli bukunya? Tidak juga. Soalnya ketika tahun itu tiba, buku itu tidak bisa saya jumpai lagi di toko buku manapun, tetapi untungnya buku itu sudah nangkring di rak buku rumah saya. :D

  4. Pada waktu yang lain, saya memang sedang tidak mood untuk berkunjung, alias dadakan saja ke sana. Tapi ada saja sesuatu yang seperti ‘memanggil-manggil’ saya untuk masuk ke toko buku.
    Yang satu ini barangkali sudah beraroma ‘mistik’ bagi sebagian besar orang, mungkin juga bagi Anda. Tapi betul, biasanya saat-saat seperti itu terjadi karena ada buku yang betul-betul ‘memanggil’ untuk ditengok dan didatangi. :eek:
    Buku semacam itu langsung mencuri perhatian saya dengan amat sangat seperti magnet, walaupun tidak tahu kenapa bisa begitu. Dan ketika saya buka, saya memang mendapati buku itu layak untuk dibawa pulang. Dan setelah buku itu ada di tangan saya, minat saya untuk berkunjung ke rak lain sudah hilang, alias langsung ingin membawa buku itu pulang. :ngacir:
    Percaya atau tidak, kali berikutnya saya berkunjung ke sana, stok buku itu sudah tidak ada lagi di toko tersebut. Dan pada banyak kesempatan, buku yang saya bawa pulang itu memang tinggal satu-satunya, dan sudah terdampar dalam kondisi terbuka dan lecek. Seolah-olah memang disisakan untuk menunggu saya membelinya. :linux2:

Jadi buku apa yang dibaca di tempat vs dibawa pulang?

Nah, kalau ini tergantung bukunya dibuka atau tidak, juga penilaian terhadap isinya. LOL.

  1. Bukunya ada yang dibuka? Seleksi dulu isinya. Kalau tidak ada sample buat dibaca, yaa … biasanya saya langsung beralih ke buku lain (yang ada sample untuk dibaca) :) :) :D
    Ada toko-toko buku tertentu yang mungkin satpam dan penjaganya juga sudah hapal wajah saya, jangan-jangan juga menyadari ‘keterampilan’ tertentu saya, yang sangat mungkin juga dikuasai pengunjung tetap lainnya. :malu:
    Soalnya dari waktu ke waktu saya berkunjung, letak buku-buku yang sudah dibuka biasanya disembunyikan di bawah-bawah sekali (dan atasnya ditumpuki buku-buku yang masih dibungkus plastik), atau disembunyikan di bagian dalam rak (dan tentunya di depannya ditutupi buku-buku yang masih berplastik). :hammer:
    Tapi berhubung saya sudah lumayan sering ‘tersesat’ di belantara buku seperti ini, dalam sekali pandang saya bisa membedakan yang mana masih dibungkus plastik dan yang mana sudah dibuka. Susah mengintip posisi bukunya? No problem. Kan masih ada jari tangan yang bisa dipakai untuk mendeteksi buku mana yang sudah tidak diplastiki. LOL. :p

  2. Lihat daftar isi atau halaman indeksnya (bila ada). Bila daftar itu kurang jelas, skimming isinya.
    Setelah itu, tinggal menilai isinya.
    Kalau isinya tidak menarik atau malah bikin mumet kepala, atau bahkan cuma ‘sampah’ untuk otak pembaca, tinggalkan kembali dan cari buku yang lain.
    Kalau isinya lumayan menarik, tinggal dinilai:

    • Apakah isinya cukup dibaca sekali saja? Bila ya, baca saja di tempat.
    • Apakah isinya layak untuk dibaca ulang? Terlalu berbobot untuk dibaca satu kali saja sehingga harus diresapi pelan-pelan? Bila ya, kalau memang berhasrat untuk memboyong pulang, ya silakan bukunya diboyong pulang ke rumah. Jangan lupa bayar dulu ke kasir. :Peace:

Jadi?

Jadi kalau saya ditanya “Buku apa yang Anda baca?” dan “Memangnya harus sampai dibeli pulang segala?”, nah itu kira-kira penjelasannya. :Peace:

Tidak terbatas pada genre, topik, ataupun jenis buku tertentu saja. Soalnya kadang-kadang saya juga masih mengintip wilayah komik / manga. Kenapa? Karena komik / manga pun ada yang betul-betul berbobot dan masuk hitungan untuk ditengok. Ada manga tertentu yang mengandung filosofi hidup yang cukup dalam untuk diambil hikmahnya, dan anak-anak belum tentu paham membacanya (sekalipun bukan kategori dewasa). Ada juga manga yang bercerita tentang kisah mahasiswa kedokteran beserta kasus yang mereka hadapi, dan boleh cross check ke buku kedokteran, sang mangaka (pengarang manga) rupanya tidak sembarangan menulis kasusnya.

Kadangkala saya juga bertamu ke buku-buku pelajaran sekolah.
“Lho, kok gitu, Situ kan sudah lulus?” Mungkin saya ditanyai begitu.
Saya kira tidak masalah bertamu ke rak-rak itu. Setidaknya saya ingin tahu perkembangan apa yang ada pada pendidikan adik-adik di luar sana.

Misalnya begini, Anda pernah bertandang ke buku-buku SMK untuk mengintip isinya? Ternyata banyak buku-buku berbobot di sana. Anda pernah melihat buku-buku Matematika tambahan yang mengajarkan bermacam-macam trik berhitung bahkan mantap untuk dipelajari anak SD? Jadi iri rasanya, karena untuk generasi mereka, sudah ada yang membocorkan trik-trik perhitungan yang “ckckck …” luar biasanya. :think:

Jadi bisa dibilang, saya iri terhadap generasi yang lebih muda dari saya, terutama yang masih belum kuliah. Pada waktu masih seusia mereka, toko-toko buku yang saya kunjungi dulu itu belum ada buku-buku pelajaran sekolah yang tersedia sebanyak sekarang. Saya bertanya-tanya seperti apa kurikulum sekolah generasi mereka.

Bisa dibilang, mereka generasi yang sangat beruntung. Karena bila mereka tekun belajar, dan tabah tentunya, juga bersedia mengintip buku-buku pelajaran di toko buku (di luar yang diwajibkan oleh sekolah mereka), mereka bisa membandingkan sendiri pelajaran antara buku teks yang di luar sana dengan yang diwajibkan di sekolah mereka. Dan ada begitu banyak hal yang bisa mereka pelajari melebihi generasi yang lebih tua.

Intinya, lautan buku ada di depan mata. Tinggal dipilih yang mana yang ingin dibaca.

Tentu saja dengan satu harapan: bukan hanya mereka, melainkan kita semua, bisa menemukan buku-buku yang memang layak dibaca, yang bukan racun bagi otak, jiwa, mental maupun hati kita.
:siul

Nah, untuk menemukan buku-buku semacam itu, setiap orang ada caranya sendiri. Cara saya pribadi, sudah saya tuliskan dalam refleksi hari ini. Saya percaya, masing-masing dari Anda juga punya cara sendiri yang unik.
:beer:

Ngomong-ngomong, untuk toko-toko buku, ada sedikit masukan dari saya:

  • Kalau boleh, untuk setiap judul buku, coba relakan satu buku tersedia dalam kondisi sudah tidak diplastiki lagi, jadi orang bisa preview di tempat dan memutuskan apakah buku itu cukup menggoda untuk membuatnya merogoh kocekan atau tidak. Hehehe … :p
  • Untuk buku kategori dewasa, tolong taruhnya di tempat yang tidak terjangkau anak-anak, di rak paling atas misalnya … Yang kategori ini, bolehlah masih tetap dalam kondisi terbungkus plastik. :Peace:

  • Nah, kalau Anda sendiri, buku apa yang Anda baca? :)
    Kalau ada judul yang menurut Anda layak direkomendasikan, silakan berbagi dengan kita semua. :beer:

    Alexandra

    Penulis at RehatSejenak.com
    nggg ... sepertinya si Imut-imut yang satu ini kelupaan memperkenalkan dirinya sendiri. /(=.=!)__

    Latest posts by Alexandra (see all)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    TrackBack URL

    http://rehatsejenak.com/buku-apa-yang-anda-baca.htm/trackback

    PAGE TOP