Hadiah Uang

Suatu ketika, Dodol yang duduk di sekolah dasar, pergi ke rumah kerabatnya untuk acara kumpul keluarga.

Sang kakek, yang memang penyayang cucu-cucunya, memanggil Dodol untuk mendekat ke meja. Sang kakek meletakkan selembar uang sepuluh ribuan berdampingan dengan sekeping koin seribuan di atas meja, lalu berkata kepada Dodol, “Nah, cucuku, berhubung ini hari raya, silakan pilih uang yang kamu mau.”

Dodol pun mengambil uang logam seribuan itu sambil berkata, “Emak selalu berpesan supaya mengambil uang yang nilainya lebih kecil.”

Sang kakek manggut-manggut.

Kemudian Dodol mengambil lembaran yang bernilai sepuluh ribu juga, sambil berkata, “Kalau Engkong nggak keberatan, kertas ini Dodol ambil untuk membungkusnya supaya uang logam ini tidak hilang.”

Memilih Hadiah Ulang Tahun Perkawinan

Tidak terasa, pernikahan Bejo dan Mimi sudah memasuki usia 10 tahun. Jadi, Bejo pun ingin bersikap manis kepada sang istri di ulang tahun perkawinan mereka yang ke-10 itu.

Bejo pun berkata kepada istrinya, “Mi, kamu boleh memilih. Mau dibelikan sehelai mantel bulu, atau mau pergi melancong ke Paris?”

“Wow, menyenangkan sekali. Begini saja,” kata Mimi, “Kita pergi melancong ke Paris saja, soalnya aku dengar di sana harga mantel bulu lebih murah.”

Sebelum vs Sesudah Menikah

Ada kisah menarik dari pasangan Bejo dan Mimi.

Konon, sebelum menikah, sewaktu kepala Mimi kepentok pintu mobil, Bejo langsung dengan sigap mengusap-usap kepala sang kekasih sambil berkata, “Darling, kamu nggak apa-apa kan?”

Tapi berdasarkan kesaksian seorang tetangga yang enggan disebutkan namanya, ternyata peristiwa yang sama terjadi lagi saat Bejo dan Mimi sudah menjadi suami-istri. Untuk yang kali ini, Bejo buru-buru mengusap pintu mobilnya dan berkata, “Waduh! Untung kaga lecet!”

Selingkuh Dan Kopi

Suatu ketika, Bejo yang juga seorang perwira militer, frustrasi. Akhirnya ia mendatangi dokternya.

“Dok, tolong saya,” keluh Bejo, “beberapa hari lalu, waktu saya pulang dari kantor, saya menangkap basah istri saya sedang selingkuh dengan lelaki lain. Lalu saya ambil pistol dan saya acungkan kepada istri saya. Lelaki selingkuhannya itu malah berkata bahwa saya percuma saja membunuh istri saya, karena saya akan masuk penjara dan tidak pernah lagi bisa bersama istri saya.”

“Lalu?” tanya sang dokter was-was mendengar cerita Bejo.

“Akhirnya saya luluh, lalu ia mengajak minum kopi,” sahut Bejo.

Sang dokter bernapas lega, kemudian bertanya lagi, “Nah, terus apa masalahnya?”

Bejo terduduk lemas.

“Dua hari kemudian, istri saya ternyata selingkuh lagi, dengan lelaki yang sama. Saya juga memergoki lagi. Saya todong lagi pistol, tapi kali ini ke lelaki itu,” kata Bejo, “Tapi sekali lagi orang itu bilang bahwa kalaupun dia mati, istri saya akan selingkuh juga dengan lelaki lainnya.”

Sang dokter mendengarkan dengan terpana, “Jadi?”

“Lalu, saya luluh lagi, dan kemudian dia mengajak saya minum kopi lagi,” kata Bejo.

Sang dokter menggaruk-garuk keningnya yang berkerut, “Jadi apa hubungannya dengan kedatangan Anda ke sini?”

Bejo menghembuskan napas, mulai memegangi kepalanya akibat frustrasi berat.

“Masalahnya begini, Dok. Tadi lagi-lagi saya memergoki istri saya berselingkuh lagi. Kali ini di depan mereka, saya menodongkan pistol itu ke dalam mulut saya sendiri. Lalu lelaki itu berkata bahwa kalau saya mati, saya akan rugi. Karena justru ini akan memberi peluang seluas-luasnya bagi mereka untuk selalu bersama-sama,” kata Bejo.

“Saya luluh, dan lagi-lagi ia kembali mengajak saya minum kopi,” kata Bejo frustrasi.

Sang dokter mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya, mulai tak sabar, “Langsung ke pokok persoalan saja deh.”

“Gini, Dok,” kata Bejo akhirnya, “Kopi itu bisa merusak pola pikir saya ya?”

Saingan Dengan Sapi

Suatu ketika, sedang ada kunjungan di sebuah peternakan yang diselenggarakan bagi para peserta seminar keluarga harmonis. Bejo dan istrinya kebetulan turut serta dalam kunjungan itu.

Seorang pemandu menceritakan bahwa sapi-sapi di tempat tersebut semuanya sehat dan kuat. Dengan berapi-api sang pemandu pun memperkenalkan ternak-ternak itu kepada para pengunjung.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian. Ini sapi yang didatangkan dari New Zealand. Ini sapi yang sangat kuat sekali, sehari bisa 5 kali berhubungan dengan sapi betina!” teriak sang pemandu berapi-api.

Bejo disenggol istrinya.

“Tuh, Pak. Lima kali sehari. Bisa gak? Masa kalah sama sapi?” Bejo disindir oleh istrinya.

Sang pemandu memperkenalkan sapi lainnya dengan lebih berapi-api lagi, “Bapak-bapak dan Ibu-ibu! Kalau yang ini, sapinya dari Australia. Ini lebih kuat lagi, sehari bisa sampai 10 kali!”

Bejo lagi-lagi disenggol istrinya dan disindir, “Tuh, Pak! Bayangkan! Sepuluh kali!!”

Bejo menggaruk-garuk kepalanya. Gondok tapi tidak tahu harus menjawab apa.

Akhirnya Bejo yang sudah mulai panas, langsung bertanya kepada pemandu, “Pak. Itu 10 kali, betinanya sama atau beda-beda?”

Sang pemandu menyahut, “Oooh, ya beda-beda dong, Pak.”

Giliran Bejo yang menyenggol istrinya, “Tuh, Ma. Betinanya beda-beda. Boleh nggak??”

Kado Dalam Mimpi

Suatu hari, pada saat bangun pagi, Bejo mendengar istrinya berkata, “Say, tadi malam aku mimpi kamu memberi aku sebuah kalung berlian di hari Valentine ini. Bagaimana pendapatmu tentang mimpiku ini?”

Bejo menyahut, “Engkau akan segera mengetahuinya malam ini juga, Sayangku.”

Malam itu, sepulang dari kantor, Bejo tiba di rumah dan memberikan sebungkus kado kepada istrinya.

Dengan hati berdebar-debar, sang istri segera membuka kado itu perlahan-lahan.

Dan isi kado itu adalah … sebuah buku yang berjudul “Arti-arti Mimpi”.

Ayah Korban

Say cheeeeeeze ....
Say cheeeeeeze ….

Ini kisah ketika Bejo masih bekerja menjadi wartawan.

Suatu ketika, Bejo sedang melintas di suatu tempat, yang ternyata baru saja terjadi peristiwa kecelakaan. Instingnya sebagai seorang wartawan pun langsung tergerak, dan Bejo segera mendekati lokasi kejadian, yang sudah dikerumuni orang.

Berhubung begitu banyak orang mengerumuni lokasi kejadian, Bejo tidak bisa menerobos untuk melihat korban dari dekat.

Akhirnya, Bejo mencari akal, dan kemudian mendapatkan ide. Lalu, Bejo pun berteriak dengan suara lantang, “Minggir, mohon minggir semuanya. Saya AYAH korban! Minta jalan!”

Ternyata idenya berhasil. Kerumunan itu segera membuka dan membiarkan Bejo lewat. Semua mata juga tertuju kepadanya.

Bejo yang merasa ge-er, berkata di dalam hatinya, “Ternyata taktik gue jitu juga.”

Ketika Bejo sampai di tengah kerumunan itu, Bejo pun terpana …

SEEKOR ANAK MONYET tampak tergeletak tak berdaya!

Benar-benar Pengertian

Suatu ketika, Bejo terpesona melihat seorang cewek cantik penghuni kos putri, yang sedang termenung di jendela kamarnya. Alhasil, Bejo pun ngebet ingin kenalan dengan cewek itu.

Berhubung tidak berani ngomong langsung, Bejo pun mencari akal untuk bisa masuk ke area kos putri itu, supaya bisa kenalan dengan cewek itu. Bejo pun menyelinap ke depan jendela si cewek, yang kebetulan ditumbuhi rerumputan, dan berpura-pura sedang kelaparan lalu mulai memakan rumput itu.

Maksudnya sih, biar cewek itu melihat, terus iba dan mempersilakan dia masuk ke rumah kos, lalu memberikan makanan yang lebih enak dari rumput, lalu buntut-buntutnya bisa ngobrol dan kenalan, begitu.

Benar juga, ternyata tak lama kemudian si cewek keluar dan menyapa Bejo. Dalam hatinya, Bejo kegirangan karena rencananya mulai menampakkan hasil. Berikutnya, si cewek mempersilakan Bejo masuk ke rumah kos, yang kebetulan sedang sepi.

Bejo menyangka taktiknya sudah berbuah hasil manis. Namun, si cewek malah membawa Bejo ke halaman belakang kos putri. Dan Bejo pun melongo ketika melihat pemandangan di halaman belakang itu.

Ternyata maksud sang cewek adalah mempersilakan Bejo untuk menyantap rerumputan yang ada di halaman belakang kos putri itu, soalnya halaman belakang ditumbuhi rerumputan yang lebih panjang dan lebih banyak ketimbang depan jendela tadi, jadi biar si Bejo bisa lebih kenyang makan rumputnya.

Jarang banget kan ada cewek yang benar-benar pengertian kaya gini … :P

Disangkanya Pawang Gajah …

Bejo, yang masih kerabat direktur sebuah kebun binatang terkenal, mendengar kabar bahwa seekor gajah yang sangat besar dan tua telah mati di sebuah kandang.

Merasa turut menjadi bagian dari direksi kebun binatang itu, Bejo pun segera ke TKP untuk mengecek kebenaran berita itu. Ketika ia tiba di tempat kejadian, ia menemukan seseorang yang tengah menangis di dekat bangkai gajah yang sangat besar itu.

Bejo mencoba menghibur dan berkata, “Sebagai pawang sang gajah, tentunya Bapak sangat bersedih karena hal ini. Saya juga demikian.”

Orang itu menangis semakin keras karena jengkelnya, “Saya bukan pawang gajah ini, Pak. Tapi saya yang ditugaskan untuk menggali kuburannya!”

Pasien Hidung Mengenaskan …

Suatu ketika, saat Bejo sedang praktek, Dodol datang dengan kondisi hidung bengkak besar. Bejo terperangah melihat kondisi itu, langsung mempersilakan Dodol untuk segera duduk untuk diperiksa.

Dr. Bejo: “Astaga, ini habis kenapa?”
Dodol: (dengan suara sengau) “Hala-hala hawon.” [maksudnya: Gara-gara tawon]

Dr. Bejo: “Apa!?”

Dodol pun memperagakan sesuatu dan Dr. Bejo segera menangkap maksudnya.

Dr. Bejo: “Tawon?”
Dodol: “Ho-oh!”

Dr. Bejo: “Memang tawonnya hinggap di hidung?”
Dodol: “Ho-oh!”

Dr. Bejo: (terpana membayangkan kemungkinan kejadian yang mengakibatkan kondisi hidung Dodol hingga seperti itu) “Sempat menyengat?”
Dodol: (menggeleng) “Helum hemhat!” [maksudnya: Belum sempat!]

Dr. Bejo: (melongo) “Lho, jadi ini …?”
Dodol: (dengan susah payah berusaha mengucapkan kata-kata yang jelas) “Hawon helum hemhat hengat, hephuphu hudah hahnham hake shik holp …” [maksudnya: Tawon belum sempat sengat, sepupu sudah hantam pake stik golf …]