Agen Asuransi Terbaik Sedunia

Bejo, yang sedang mencari lowongan pekerjaan, mencoba melamar ke sebuah kantor asuransi.

Saat mendatangi kantor asuransi itu, Bejo ditolak.

“Kita sedang tidak ada lowongan pekerjaan,” begitulah cara mereka menolak Bejo.

Dengan tetap bersikukuh, Bejo berusaha meyakinkan mereka, “Anda tidak bisa menolak saya. Saya bisa menjual apapun, kapanpun, dan kepada siapapun.”

Karena melihat kegigihan Bejo untuk memperoleh pekerjaan, akhirnya pihak kantor asuransi pun menjawab, “Baiklah kalau begitu. Ini ada 2 prospek yang tidak seorangpun bisa menjualnya. Jika kamu bisa menjual satu saja, kamu dapat pekerjaan di kantor ini.”

Jadi akhirnya Bejo pun pergi seperti yang diinstruksikan. Beberapa jam kemudian, Bejo sudah kembali sambil membawa 2 lembar cek, yang satu senilai 800 juta dan satu cek lagi senilai 500 juta.

Tentu saja pihak kantor asuransi terkejut. Mereka pun bertanya, “Bagaimana Anda bisa melakukannya?”

Bejo menyahut dengan dada dibusungkan, “Tadi sudah saya bilang bahwa saya ini salesman terbaik sedunia. Saya bisa menjual apapun, kapanpun, dan kepada siapapun.”

Lalu pihak kantor asuransi bertanya lagi, “Apakah kamu membawa sample urine (air kencing)?”

“Buat apa?” tanya Bejo melongo.

“Begini,” kata pihak kantor asuransi, “Jika kamu menjual polis di atas 300 juta, perusahaan memerlukan sample urine untuk uji kesehatan. Jadi tolong bawa 2 botol ini dan kembali lagi untuk membawa sample urin.”

Alhasil, Bejo pun pergi lagi. Beberapa jam kemudian, Bejo kembali sambil membawa 2 jerigen besar di sisi kanan dan kirinya. Dia menaruh jerigen tersebut dan kemudian mengambil botol di sakunya dan berkata, “Yang di botol ini adalah urine Bapak Dodol, dan ini urine Bapak Ndablek.”

“Bagus, bagus,” kata pihak perusahaan asuransi, “Tapi yang ada di 2 jerigen ini apa?”

Jawab Bejo dengan kalem, “Oh, tadi itu saya melewati gedung sekolah, dan sedang ada pertemuan guru se-provinsi. Terus saya menjual polis group kepada mereka …”

Harap Pelan-pelan, Ada Acara Resepsi

Sebuah gedung pertemuan yang dekat dengan jalan besar, sedang disewa untuk suatu acara pernikahan. Para satpam sudah berjaga-jaga di luar gedung, di dekat tanda yang bertuliskan “Harap pelan-pelan, ada acara resepsi.”

Melihat tanda itu, orang-orang pun melewati jalan itu dengan pelan-pelan dan hati-hati, sampai akhirnya, tiba-tiba ada satu sepeda motor yang sedang melaju dengan kecepatan yang sangat kencang.

Dengan sigap sang satpam segera menghentikan motor itu sambil berteriak, “Stop! Stop!! Hei! Berhenti!!”

Laki-laki yang mengemudi motor itu pun tampak kesal dan berkata, “Aduuh! Apa-apaan sih, saya lagi terburu-buru banget nih!”

Sang satpam menyahut, “Mas, bisa baca tulisan ini, gak? Harap pelan-pelan, ada acara resepsi.”

Laki-laki itu menyahut, “Ya bisa. Tapi …”

Satpam itu langsung menyela perkataan laki-laki itu, “Halah! Alasan!”

Laki-laki itu masih berusaha menjelaskan, “Tapi, Pak …”

Satpam itu langsung memotong lagi dengan suara galak, “Ahh! Sudah! Sudah!! Putar balik saja lewat sebelah sana!”

Laki-laki itu tampak gugup dan masih berusaha hendak menjelaskan, “Pak! Pak!”

Satpam kembali melotot kepada laki-laki itu, “Apa?! Mau saya suruh push-up sekalian?!”

“Pak,” kata laki-laki itu lagi sambil keringatan, “Saya ini mau ngomong …”

Satpam itu langsung menyela dan memberi isyarat dilarang lewat, “Sudah! Pokoknya tidak bisa!”

Sementara sang satpam selalu menyela setiap kata yang hendak diucapkan laki-laki itu, tiba-tiba dari arah gedung muncul seorang pria berjas.

“Ada apa ini ribut-ribut?” tanya pria berjas itu, “Lho …?”

Pria berjas itu melihat kepada laki-laki pengendara motor itu, lalu bertanya, “Kenapa kamu masih ada di sini?”

Laki-laki itu langsung memberi isyarat sambil menunjuk si satpam tadi, “Ini nih …, saya gak dikasih lewat sama dia.”

Pria berjas itu langsung melotot kepada sang satpam, “Heh! Satpam! Situ tahu laki-laki ini siapa?”

Sang satpam menjawab dengan gugup, “Ti … tidak tahu, Pak Direktur.”

Pria berjas itu langsung mendamprat sang satpam, “Kenapa kamu tahan dia? Ini keponakan saya, si pengantin prianya!!”

Sang satpam langsung membungkukkan badan sambil meringis, “Maa … maaf, Pak. Maaf!”

Sementara laki-laki yang rupanya sang pengantin pria itu langsung menggumam sambil mendorong motornya kembali, “Huhhh, dasar satpam geblekkk!!”

Barang Selundupan

Suatu ketika, Bejo yang kala itu tinggal di kawasan Timur Tengah, hendak melintas pos perbatasan antar negara, sambil membawa tas di pundaknya. Tentara negara tetangga yang melihat Bejo melintas, langsung menghentikan Bejo dan bertanya tentang isi tasnya.

Tentara: “Sebentar, berhenti! Apa yang kamu bawa itu?!”

Bejo: (dengan tampang tak berdosa) “Pasir, Pak.”

Sang tentara yang tidak percaya begitu saja, langsung membongkar tas tersebut dan benar-benar menemukan pasir di dalam tas Bejo. Akhirnya, dengan perasaan tidak puas, mau tak mau mereka melepaskan Bejo dan membiarkan Bejo melintas wilayah perbatasan menuju negeri tetangga itu.

Keesokan harinya, lagi-lagi Bejo melintas. Tentara yang melihatnya, kembali menghentikan dia dan bertanya tentang apa yang dibawanya kali ini.

Bejo tetap menjawab bahwa dia membawa pasir. Para tentara itu tetap tidak percaya dan memeriksa dengan teliti isi tas tersebut. Lagi-lagi mereka mendapatkan pasir.

Kejadian yang sama terus berulang hingga bertahun-tahun lamanya. Akhirnya suatu hari Bejo tidak muncul lagi, dan ketika sedang tidak bertugas, salah satu tentara yang sering menghentikan Bejo itu mendapati Bejo sedang bersantai ria di luar kota.

Tentara: (penasaran) “Hey, kamu yang dulu itu sering bawa pasir kan?”

Bejo, memasang tampang tak bersalah, seperti biasanya.

Tentara: “Saya menduga kamu selama ini membohongi kami saat melintasi perbatasan, tetapi kami selalu menemukan pasir di tasmu.”

Bejo masih tetap memasang tampang polos.

Tentara: “Selama bertahun-tahun ini saya seperti jadi gila. Tidak enak makan, tidak enak tidur, memikirkan barang selundupan kamu itu. Baiklah, ini hanya antara kita saja, saya mau tanya, sebenarnya apa sih yang kamu selundupkan tiap hari selama bertahun-tahun itu?”

Bejo: (menyahut dengan kalem) “Tas.”

Buku Apa Yang Anda Baca?

Sebenarnya saya tidak tahu apakah seharusnya saya menulis artikel yang satu ini, … tapi sepertinya boleh juga untuk berbagi refleksi diri. Barangkali saja saat Anda membaca ini, Anda jadi turut mendapat pemahaman lebih mendalam tentang diri Anda sendiri, minat Anda, bahkan cara Anda menggali berbagai hal sepanjang hidup Anda, yang tentunya diharapkan akan bisa mendukung majunya pencapaian Anda dalam kehidupan ini.

Sebenarnya trigger penulisan artikel ini tidak disengaja. Seseorang yang saya kenal, mengetahui tentang kebiasaan saya terhadap buku-buku dan bacaan. Bila Anda pernah mengunjungi halaman About situs ini, Anda mungkin sudah menyadari bahwa saya ini seseorang yang seringkali ‘tersesat’ di tengah tumpukan dan rak-rak buku, entah itu perpustakaan (terutama semasa masih sekolah dan kuliah), koleksi sendiri (atau punya kerabat, ketika berkunjung ke rumahnya), maupun toko-toko buku.

Nah, mungkin jadi ada pertanyaan: Buku apa yang dibaca dari sana? :)
Continue reading →

Jamur

Seorang kakek yang juga profesor botani, mempunyai hobi yang menyenangkan. Setiap akhir pekan, ia pergi mengunjungi hutan dan mengumpulkan jamur.

Saking gandrungnya ia dengan hobi ini, setiap kali pulang, ia membawa jamur melebihi apa yang diperlukan oleh keluarganya. Alhasil, ia pun membagi-bagikan sebagian jamur itu kepada para tetangganya.

Pada suatu hari, sang profesor menghentikan seorang tetangga yang kebetulan berpapasan, dan bertanya, “Apakah Anda menyukai jamur yang saya berikan minggu lalu?”

Sang tetangga menjawab, “Oh, jamur itu lezat sekali. Paman dan Bibi saya juga kebetulan berkunjung, akhirnya saya berbagi jamur itu dengan mereka juga. Mereka bilang, mereka belum pernah merasakan jamur selezat itu. Kami betul-betul berterima kasih karena Anda begitu murah hati.”

Sang profesor menyahut, “Wah, saya gembira semua orang menyukai jamur-jamur itu. Oh ya, ada orang yang alergi terhadap jamur. Di keluarga Anda tidak ada yang mendapat efek samping atau sakit oleh jamur itu?”

Sang tetangga menggeleng.

“Tidak, Kek. Seperti yang sudah saya katakan, itu adalah jamur yang paling lezat yang pernah Anda berikan kepada kami,” jawab sang tetangga.

Sang profesor langsung meloncat kegirangan.

“Horeee!!” seru sang profesor kegirangan, “Saya baru saja menemukan jenis jamur baru yang tidak beracun!”

Laporan

Suatu ketika, Bejo bekerja sebagai masinis kereta api. Setelah bekerja beberapa waktu lamanya, rekan-rekannya menyadari bahwa Bejo mempunyai kebiasaan mengirimkan laporan yang terlalu panjang untuk urusan atau persoalan yang kecil.

Akhirnya, pada suatu hari, Bejo mendapat nota dari kantor pusat perusahaan kereta api tersebut, yang meminta agar ia belajar untuk membuat laporan singkat.

Setelah mendapat nota tersebut, Bejo pun menaati instruksi yang diberikan, yakni membuat laporan yang singkat pada waktu berikutnya.

Akan tetapi, pada laporan berikutnya itu, tak seorang pun dari kantor pusat yang dapat memahami apa yang dilaporkan oleh Bejo.

Karena begini bunyi laporannya:

Mati lagi. Nyala lagi. Mati lagi. Nyala lagi. Mati lagi.

Hormat saya,
Bejo.

1 detik

Seorang pria mendengar dari pendetanya bahwa ukuran yang dipakai manusia, tidak ada artinya di mata Tuhan. Konon, 1000 tahun bagi manusia, itu hanya 1 detik bagi Tuhan.

Pria itu merasa kurang yakin, karena itu ia ingin bertanya langsung kepada Tuhan. Akhirnya setelah doa yang sangat khusyuk, pertama kalinya ia mendengar jawaban Tuhan.

Begini percakapannya …

Pria: “Tuhan, berapa lama 1000 tahun bagiMu?”
Tuhan: “Satu detik.”

Pria: “Lalu 1 milyar rupiah bagiMu itu berapa?”
Tuhan: “Sepeser.”

Pria itu berpikir sejenak, kemudian mendapat ide.

Pria: “Tuhan, kalau begitu, bisakah Engkau memberikan sepeserMu itu kepadaku?”
Tuhan: “Bisa. Tapi tunggu 1 detik lagi.”

Menanyakan Kepada Yunus

Seorang anak beriman sedang berdebat dengan seorang laki-laki dewasa yang skeptis tentang kisah yang tertulis di dalam suatu kitab suci.

Pria: “Jadi kamu percaya cerita tentang Yunus yang ditelan ikan besar?”

Anak kecil: “Yup.”

Pria: “Bagaimana kamu membuktikan kebenaran cerita itu? Memangnya cerita itu benar terjadi? Kedengarannya tidak mungkin, ditelan ikan besar berhari-hari seperti itu masih bisa hidup!”

Anak kecil: “Mmm, entahlah. Suatu hari akan aku tanyakan kepada Yunus kalau aku sudah ke sorga nanti.”

Pria: “Bagaimana kalau Yunus nanti ternyata tidak ada di sorga tapi di neraka?”

Anak kecil: (terdiam sejenak, lalu menjawab) “Yaa, terpaksa nanti Oom lah yang menanyakannya.”

Ditolak Gerbang Akhirat

Suatu hari, Bejo sakit keras dan meninggal setelah jantungnya dioperasi di suatu rumah sakit. Alhasil, ia tiba di pintu gerbang Surga dan turut mengantri di belakang orang-orang yang meninggal sebelum dia.

Setelah mencapai gilirannya, sang malaikat memeriksa daftar untuk mencari nama Bejo, kemudian menggelengkan kepalanya dan berkata kepada Bejo, “Nama Anda tidak tercantum dalam daftar orang yang masuk Surga hari ini. Sebaiknya Anda mencoba datang ke pintu gerbang satunya lagi.”

Sang malaikat kemudian menunjuk ke pintu gerbang Neraka yang berada di kejauhan sana.

Bejo memegangi kepalanya dan mengacak-acak rambutnya dengan perasaan panik, “Tidak mungkin! Saya sudah berusaha hidup sebagai orang baik. Saya tidak pernah lupa pergi beribadah. Saya suka beramal kepada orang miskin. Saya selalu berusaha baik kepada semua orang, selalu menaati perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya. Tolong jangan tolak saya. Coba cek lagi nama saya di komputer kehidupan. Siapa tahu ada kekeliruan?”

Maka sang malaikat pun mengecek kembali database keanggotaan Surga di komputernya, dan menemukan sesuatu petunjuk.

“Ah, betul,” kata sang malaikat akhirnya, “Nama Anda memang ada di dalam daftar ini …”

Lalu sang malaikat memandang Bejo dengan tatapan iba sambil berkata, “Tetapi seharusnya Anda datang ke sini sembilan tahun lagi. Siapa sih nama dokter yang mengoperasi Anda?”

Pembicaraan Peserta Seminar

Dua orang pria datang lebih awal sebelum acara seminar dimulai. Kebetulan mereka duduk berdampingan, akhirnya mereka pun mengobrol sambil menunggu seminar itu dimulai.

“Saya baru saja mengadakan transaksi penjualan besar,” kata pria pertama, “Dan saya masih berpikir-pikir, hadiah apa yang sebaiknya saya berikan kepada istri saya.”

“Oh,” sahut pria kedua, “Saya tahu hadiah apa yang sempurna untuk istri Anda, Pak.”

Lanjut sang pria kedua lagi, “Belikan pakaian untuknya. Tidak peduli sudah berapa pakaian yang dimiliki istri Anda, dia akan selalu senang jika dibelikan pakaian baru. Apalagi pakaian bagus akan turut membuatnya tampak cantik. Sebagai suami yang perhatian kepada istrinya, tentunya dengan membelikannya pakaian merupakan cara Anda untuk menyatakan bahwa Anda menyayanginya dan bahwa Anda ingin dia cantik dan dikagumi. Tidak ada yang bisa membuat seorang wanita merasa lebih bahagia selain mendapatkan sesuatu yang baru untuk dipakai, apalagi dari suami yang perhatian kepadanya.”

“Wow, itu belum pernah terpikirkan oleh saya,” sahut pria pertama sambil manggut-manggut, “Oh ya, apakah Anda seorang psikolog?”

“Oh, bukan,” sahut pria kedua, “Saya salesman pakaian jadi.”