Kalau Dokter Memberikan Surat Cinta

Alkisah, Bejo yang sudah bertahun-tahun menjadi dokter dan masih menjomblo, akhirnya jatuh cinta kepada seorang gadis yang cantik. Suatu ketika, karena sudah tidak tahan lagi, ia pun mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu dengan menulis surat cinta, lalu mengirimkan surat cinta itu ke alamat rumah si gadis.

Butuh berhari-hari menunggu hingga akhirnya tiba juga balasan surat dari gadis itu. Begini bunyi suratnya ketika dibaca oleh Bejo:

“Dokter Bejo, surat dokter sudah aku terima. Maaf agak terlambat membalasnya. Soalnya aku harus ke apotek langgananku dulu supaya bisa baca tulisan di suratmu …”

Pintar Berhitung

Suatu ketika, Dodol yang sudah sekolah di sekolah dasar, ikut kumpul-kumpul keluarga dan kerabat pada saat hari raya.

Si Engkong pun memanggil Dodol yang sudah mendapatkan pelajaran berhitung itu, untuk bertanya tentang sekolah dan segala hal yang terpikir oleh sang kakek. Beberapa saat kemudian, sang Engkong melihat betapa Dodol sudah bosan meladeni pertanyaannya, maka ia pun mengeluarkan dua lembar uang kertas untuk menarik perhatian Dodol lagi.

Si Engkong memperlihatkan dua lembar uang itu, sepuluh ribu dan dua puluh ribu, dan menyuruh Dodol untuk memilih salah satunya.

Dodol memilih yang sepuluh ribu.

Sang Engkong, terkejut, kecewa dan garuk-garuk kepala melihat pilihan cucunya itu. Kemudian ia memutuskan untuk mengeluarkan satu lembar uang sepuluh ribu lagi, dan meminta Dodol memilih lagi antara sepuluh ribu dan dua puluh ribu.

Lagi-lagi, Dodol memilih yang sepuluh ribu.

Sang Engkong lagi-lagi terkejut dan kecewa.

Akhirnya sang Engkong membawa Dodol kepada para kerabat satu per satu dan menunjukkan betapa bodohnya dia, karena lagi-lagi memilih uang sepuluh ribu ketimbang yang dua puluh ribu. Demikianlah hal itu berulang diperlihatkan kepada para kerabat yang hadir.

Akhirnya, setelah ditotal, 20 kali si Engkong menyuruh Dodol memilih, dan 20 kali itu juga Dodol terus memilih uang sepuluh ribu ketimbang dua puluh ribu.

Beberapa jam kemudian, saat pulang dari rumah kerabat itu, sang ayah menanyai Dodol tentang mengapa ia memilih uang sepuluh ribu daripada dua puluh ribu.

Dodol pun menjawab sambil cengar-cengir, “Pak, kalau aku tadi pilih yang dua puluh ribu dari awalnya, aku ga bakal dapat duit 200 ribu!”

Anda Anggota Petugas …?

Suatu hari, di dalam sebuah bis kota dengan penumpang yang berjejal, tampak ada seorang penumpang yang sedang berdiri, sedang terlibat percakapan dengan salah seorang penumpang lainnya, yang badannya kekar dan berambut cepak.

Penumpang: “Maaf, Pak. Apa Bapak ini anggota satpol PP?”
Si Cepak yang Kekar: “Oh, bukan.”

Penumpang: “Oh, apa Bapak seorang polisi?”
Si Cepak yang Kekar: “Bukan.”

Penumpang: “Apakah Bapak ini Angkatan Darat?”
Si Cepak yang Kekar: “Bukan!”

Penumpang: “Angkatan Laut, atau Angkatan Udara, jadinya?”
Si Cepak yang Kekar: “Bukaaan, bukan!”

Penumpang: “Kalau begitu, sialan lu!!”
Si Cepak yang Kekar: “Lho, kenapa?”

Penumpang: “Situ nginjak kaki saya!!!”

Anjing yang Tak Terkalahkan …

Suatu ketika, pada zaman dahulu kala di Inggris, ketika masih zamannya para tuan tanah, mereka memiliki anjing-anjing pemburu yang sangat tangguh.

Namun, ada seorang pendatang baru yang memiliki anjing dengan tinggi hanya 30cm, anjing ini jelas benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan anjing-anjing pemburu lainnya.

Ketika orang ini berjalan-jalan dengan anjingnya, ia bertemu dengan salah seorang tuan tanah senior yang memiliki anjing yang sangat besar dan sangar.

Sang tuan tanah senior itu pun menyapa dengan sombongnya, “Hai, pendatang baru! Anjingmu pendek sekali! Memangnya tidak ada anjing lain yang lebih bagus yang bisa kau miliki?”

Sang pendatang baru pun menyahut, “Ooh, baiklah. Bagaimana kalau dicoba. Kalau anjingmu bisa mengalahkan anjingku ini dalam hitungan detik, aku akan memberikan 1.000 keping emas kepadamu. Kalau anjingku yang menang, aku yang mendapatkan 1.000 keping emas darimu.”

Akhirnya mereka sepakat mengadu anjing mereka.

Hanya dalam 10 detik, terjadi pemandangan mengenaskan, sang anjing besar hancur tanpa belas kasihan. Sang pendatang baru pun menerima kepingan emas yang dipertaruhkan.

Kemudian sang pendatang baru melanjutkan jalan-jalannya bersama anjingnya kembali. Setelah berjalan agak jauh, ia bertemu seorang tuan tanah senior lainnya, yang memiliki anjing blasteran yang masih keturunan serigala. Kembali ia ditertawakan oleh sang tuan tanah satunya lagi, dan ia pun menantang balik anjing serigala itu dengan taruhan 5.000 keping emas.

Lagi-lagi, anjing milik si pendatang baru yang menang. Anjing keturunan serigala milik si tuan tanah senior itu kalah dalam kondisi mengenaskan. Dan sang pendatang baru mendapatkan 5.000 keping emas itu.

Ketika sang pendatang baru akan melanjutkan jalan-jalannya lagi, si tuan tanah kedua ini menyarankan dia untuk menemui raja, yang konon memiliki anjing terkuat di seluruh kerajaan itu.

Singkat kata, sang pendatang baru bertemu dengan raja, dan sang raja juga menantang adu anjing dengannya. Kali ini taruhannya 10.000 keping emas.

Lagi-lagi, yang menang adalah anjing milik pendatang baru itu.

Dengan terheran-heran, sang raja berkata, “Hebat sekali! Anjing apa ini dan bagaimana engkau melatihnya?”

Sang pendatang baru menjawab, “Ooh, latihannya biasa-biasa saja, dan rasnya juga saya sendiri kurang jelas.”

Lalu sang pendatang baru melanjutkan kembali, “Tetapi kalau tidak salah, sebelum ekornya dipotong dan diberi kuping-kupingan, namanya buaya.”

Ketika Pelatih Sirkus Sedunia Berlomba

Suatu hari ada perlombaan untuk mencari pelatih sirkus andal kelas dunia. Setelah melalui babak penyisihan hingga babak-babak seleksi berikutnya, akhirnya hanya tersisa tiga peserta di babak final, yakni dari Indonesia, Thailand dan India.

Karena hanya satu orang yang akan terpilih sebagai pelatih sirkus terbaik dunia sepanjang masa, maka dewan juri pun memberikan satu ujian terakhir.

Kemudian, dipanggillah satu ekor gajah jantan yang ekstra besar, juga yang paling susah diatur dibandingkan gajah-gajah lainnya, dan masing-masing peserta final disuruh untuk membuat si gajah duduk.

Pelatih dari Thailand maupun India sudah mendapatkan giliran masing-masing, tetapi ternyata segala cara yang mereka lakukan tidak berhasil. Si gajah tetap cuek tidak bergerak.

Akhirnya Bejo, sang peserta dari Indonesia, mendapatkan gilirannya. Bejo langsung menatap lurus mata sang gajah, kemudian mengelilingi si gajah 3 kali. Ketika berada dekat dengan ekor sang gajah, Bejo pun mengangkat ekor si gajah, dan menyentil biji si gajah.

Alhasil, sang gajah pun merasa mulasnya bukan main, lalu terduduk.

Penonton dan supporter bersorak-sorak atas keberhasilan peserta dari Indonesia ini.

Akan tetapi, kedua pelatih sirkus dari negara lain itu menggerutu dan tidak puas terhadap hasil ujian itu. Mereka pun protes dan meminta para juri untuk memberikan satu ujian lagi supaya lebih meyakinkan.

Maka sang dewan juri berkata, “Baiklah, ini ujian terakhir: Anda harus membuat si gajah menggeleng!”

Kedua pelatih sirkus dari negara-negara lain itu sekali lagi tidak berhasil membuat si gajah melakukan yang diinginkan. Setelah melakukan berbagai cara dan gagal, mereka menyerah.

Kali ini giliran Bejo lagi. Maka, Bejo lagi-lagi menatap lurus ke mata sang gajah, kemudian mengelilingi si gajah 3 kali lagi. Dan ketika berada di samping kuping si gajah, Bejo berbisik, “Heh, lu mau nggak gue sentil biji lu lagi??”

Kontan saja sang gajah langsung menggeleng-geleng.

Pola Siklus Pembelajaran Dalam Hidup

Sadar maupun tidak sadar, suka maupun tidak suka, dalam kehidupan ini selalu ada proses dan tahap pembelajaran. Dan selama kita masih hidup, kita akan selalu mempelajari sesuatu yang pernah kita jumpai dalam kehidupan ini. Bagi beberapa orang, mungkin tahap-tahap seperti itu tidak dianggap sebagai “tahap belajar”, barangkali karena mereka tidak sadar bahwa saat itu mereka sebenarnya “sedang belajar”. Bisa jadi, ketidaksadaran ini dikarenakan definisi mereka tentang “belajar” itu sendiri tidak sama dengan orang-orang yang “sadar”. :hammer

Lalu, bagaimana kaitannya antara “kesadaran” vs “ketidaksadaran” ini dengan tahap-tahap belajar itu sendiri? Apakah “belajar” (aksi) dan “kemampuan” (hasil) selalu berbanding lurus? Bila aksi “belajar” tidak pernah berhenti, apakah pada akhirnya “kemampuan” akan naik kelas menjadi “kemahiran”? :nerd

Kalau ditelusuri, ternyata ada kaitan antara “kesadaran” (vs “ketidaksadaran”) dalam pembelajaran, dengan “kemampuan” (vs “ketidakmampuan”). Dan ketika diamati, ternyata dalam proses kehidupan seseorang, sebetulnya ada tahap-tahap tertentu yang akan dialami, dan sepertinya siklusnya memiliki pola yang serupa untuk setiap proses pembelajaran.
Continue reading →

Pil Pintar

Suatu ketika, Dodol yang pemalas datang kepada seorang dokter.

Dodol: “Dok, saya ingin diberikan obat yang dapat membuat saya pintar.”

Dokter: “Ambillah pil pintar ini, dan kembali lagi minggu depan. Jangan lupa, ini dibawa ke kasir untuk dibayar.”

Dodol pun mengikuti perkataan sang dokter.

Seminggu kemudian, Dodol kembali mendatangi dokter itu lagi.

Dodol: “Dokter, saya sudah ikuti anjuran dan memakan pil pintar itu. Tetapi saya tidak mendapatkan kepintaran lebih dari sebelumnya.”

Dokter: “Ambillah beberapa pil pintar ini dan kembali lagi minggu depan. Jangan lupa ini dibawa ke kasir untuk dibayar.”

Dodol mengikuti perkataan sang dokter.

Seminggu berikutnya, Dodol datang lagi.

Dodol: (protes) “Dokter, saya tahu bahwa saya tidak akan menjadi lebih pintar dengan memakan pil yang Dokter berikan. Karena pil pintar itu ternyata hanya permen.”

Dokter: “Nah, sekarang Anda sudah mendapatkan kepintaran itu. Jangan lupa, slip biaya konsultasi ini nanti dibawa ke kasir untuk dibayar sebelum Anda pulang.”

Ketika Kondisi Fisik Disindir-sindir

Dua orang sobat karib, si gemuk dan si kurus, sedang saling menyindir kondisi fisik lawan bicaranya.

Si Gemuk: “Badanmu itu lho, kurus sekali. Bawa citra jelek buat bangsa ini. Kalau melihatmu, orang-orang luar negeri bakalan bilang: Ooh, di negeri ini masih banyak orang-orang kelaparan.”

Si Kurus: “Tapi kalau orang-orang luar negeri itu melihatmu yang begini gemuk, mereka bakalan bilang: Ooh, rupanya inilah penyebab kelaparan di negeri ini.”

Kopi Panas

Suatu ketika, Dodol bekerja sebagai seorang pelayan di salah satu rumah makan.

Seorang tamu restoran memesan secangkir kopi yang kemudian segera diantar oleh Dodol. Akan tetapi, Dodol tidak memberikan sendok kepada sang tamu untuk mengaduk kopinya.

Sang tamu, yang dengan susah payah meminta sendok, akhirnya jengkel karena tidak mendapatkan apa yang dimintanya. Akhirnya dengan setengah berteriak, sang tamu pun berkata, “Pelayan!! Kopi ini terlalu panas untuk saya aduk dengan jari tangan saya!!”

Tidak berapa lama kemudian, Dodol pun tergopoh-gopoh datang ke meja sang tamu restoran, dengan membawa secangkir kopi lainnya.

“Kopi yang ini tidak terlalu panas, Tuan,” kata Dodol sambil menebar senyum.

Rapat Satu Arah

Seorang direktur perusahaan besar tiba-tiba memanggil para karyawan terkait untuk mengadakan rapat di ruang pertemuan.

Tak lama kemudian semua peserta rapat sudah hadir dan mengisi tempat duduk mereka masing-masing.

Sebelum rapat dimulai, sang direktur pun berdiri dan mengumumkan kepada peserta rapat:

“Siapa saja yang tidak setuju dengan usulan yang akan saya utarakan nanti, saat ini juga sudah boleh meninggalkan ruang rapat. Kalau nanti rapat sudah dimulai, peraturannya berbeda: Setiap orang yang tidak setuju boleh mengatakan keberatannya dengan berkata, ‘Saya berhenti’.”