Lembah Gema

Suatu ketika, Bejo dan istrinya sedang melancong ke suatu negara, dan mengunjungi suatu lembah supernatural terkenal yang bernama Lembah Gema.

Setelah mendengar kisah ajaib lembah itu, maka Bejo dan istrinya sepakat untuk mencobai lembah itu.

“Kamu duluan deh yang coba,” kata sang istri kepada Bejo.

“Sebenarnya aku merasa ini konyol,” kata Bejo, “Tapi oke deh, kita tes.”

Lalu Bejo berteriak sekuat tenaga, “Bohong!!!”

Beberapa saat menunggu, Bejo pun menoleh dan berkata kepada istrinya, “Tuh, mana? Tidak terjadi apapun.”

Sang istri mengangkat bahu, namun kemudian berkata, “Coba lagi aja.”

Kali ini Bejo mencoba lagi, dan berteriak dengan makin keras, “GUE INI PRIA PALING MACHO DAN TAMPAN SEDUNIAAA!!!”

Tepat setelah Bejo selesai dengan kalimat barusan, terdengar gema yang sangat keras dari seruannya yang pertama …

“BOHONG!!!”

Masalah Mendengkur

Bejo menemui dokternya untuk menanyakan apakah sang dokter bisa menolongnya dari masalah mendengkur.

“Begitu saya terlelap, saya langsung mendengkur,” kata Bejo, “Ini terjadi setiap saat, dan saya jadi kasihan terhadap istri saya. Dia pasti merasa terganggu sekali akibat dengkuran saya. Tolong, Dokter. Apa yang harus saya lakukan supaya bisa sembuh dari masalah mendengkur ini?”

“Sebenarnya kalau hanya istri Anda yang terganggu akibat dengkuran Anda, itu masih hal wajar,” kata sang dokter, “Kalau suara dengkuran Anda sampai mengganggu orang lain, baru perlu dicari jalan penyembuhannya.”

Bejo menyahut dengan frustrasi, “Nah, itulah masalahnya, Dok. Karena bukan hanya mengganggu istri saya saja, tetapi juga mengganggu seluruh jemaat gereja.”

Headline Surat Kabar

Pada suatu hari, sebuah surat kabar ternama terbit dengan headline berbunyi demikian di halaman depannya:

“50% Pejabat Tinggi Kita Koruptor”

Alhasil, pada hari itu juga, tim redaksi dan penanggung jawab surat kabar itu langsung mendapat panggilan dan teguran keras, mereka diwajibkan untuk meralat berita surat kabar itu, dengan ancaman bila tidak diralat maka surat izin terbitnya akan dicabut.

Maka keesokan harinya, surat kabar itu terbit dengan memuat ralat yang berbunyi demikian:

Pengumuman

Dengan ini kami meralat berita utama kemarin yang berjudul “50% Pejabat Tinggi Kita Koruptor”. Berita tersebut ternyata tidak benar. Yang benar adalah: “50% Pejabat Tinggi Kita Bukan Koruptor”.

Demikianlah ralat pemberitaan ini kami sampaikan. Atas perhatian para pembaca, kami mengucapkan terima kasih.

Penyakit Aneh

Belakangan ini Bejo merasa paranoid, bertanya-tanya jika dirinya sedang menderita penyakit yang aneh. Setiap hari kepalanya selalu terasa seperti dipukul-pukul oleh sesuatu dan telinganya juga sering berdenging.

Bejo yang tidak puas dengan kunjungannya ke dokter pertama, akhirnya mengunjungi dokter lainnya. Setelah tiga dokter yang dikunjungi, ternyata Bejo menerima kesimpulan yang sama dari para dokter itu: bahwa usianya tinggal beberapa bulan lagi.

Mendengar vonis semacam itu, akhirnya Bejo pun memutuskan untuk menikmati sisa hidupnya sepuas-puasnya daripada menyesali nasib. Dia merencanakan untuk berpetualang, menikmati berbagai makanan lezat, dan memutuskan untuk melakukan berbagai perjalanan keliling dunia.

Sebagai persiapan untuk melanglang buana, maka Bejo pun akhirnya pergi ke seorang penjahit terkenal, hendak memesan pakaian.

“Pak, saya mau pesan satu lusin kemeja,” kata Bejo kepada sang penjahit ternama itu.

“Baik, Pak,” kata sang penjahit, “Silakan Bapak berdiri dulu sebentar, biar saya ukur leher Bapak.”

Sahut Bejo, “Sepertinya nggak perlu deh, ukuran leher kemeja saya enam belas.”

Namun sang penjahit menyahut balik, “Pak, sebagai tailor ternama, kami selalu harus mengambil kembali ukuran pakaian langganan setiap membuat pakaian baru lagi.”

Maka Bejo pun menyerah, “Baiklah, walaupun saya tetap merasa Bapak ini buang-buang waktu saja. Dari dulu ukuran leher kemeja saya memang segitu.”

Sang penjahit tidak berkomentar lebih lanjut, langsung melilitkan pita pengukur ke leher Bejo.

“Tuh kan, ternyata ukuran leher kemeja Bapak adalah tujuh belas,” kata sang penjahit sambil mencatat ukuran itu di kertas kerjanya.

“Tujuh belas?” kata Bejo terkaget-kaget, “Aneh! Selama sepuluh tahun terakhir ini saya selalu memakai kemeja dengan ukuran enam belas.”

Sang penjahit mendesah dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Pak,” kata sang penjahit, “Kalau Bapak mengenakan kemeja ukuran enam belas, maka kepala Bapak akan terasa seperti dipukul-pukul, dan telinga Bapak akan berdenging.”

Pertolongan Kala Banjir

Suatu ketika, banjir besar melanda sebuah kota kecil. Semua penduduk pun lari mengungsi, kecuali seorang pendeta yang tetap bertahan di gereja.

Sebuah perahu penyelamat datang menjemputnya, tetapi sang pendeta menolak.

“Terima kasih,” katanya, “Saya akan tetap bertahan di sini.”

Hujan pun terus mengguyur, banjir semakin tinggi. Beberapa waktu kemudian, datang pula perahu kedua menjemput sang pendeta, yang kini sudah duduk di atap gereja.

“Terima kasih,” kata sang pendeta sambil menolak, “Saya masih punya iman …”

Hujan terus turun mengguyur seluruh kota itu dan sekitarnya, banjir pun semakin tinggi. Kali ini datanglah perahu ketiga untuk menjemput sang pendeta, yang kini sudah berpegangan di puncak menara gereja itu.

Sang pendeta masih menolak, “Saya masih punya iman.”

Akhirnya, banjir menyapu habis gereja dan pendeta itu.

Di akherat, sang pendeta bertemu dengan Tuhan. Kontan saja sang pendeta mengajukan uneg-unegnya.

“Tuhan, saya sudah sedemikian kokoh dengan iman saya. Tetapi kenapa Tuhan tak juga kunjung menolong?” protes sang pendeta.

“Tak kunjung menolong?” sahut Tuhan, “Kan Saya sudah kirim tiga perahu!”

Pendaki Gunung

Seorang pendaki gunung terpeleset dari suatu tebing yang terjal dan tinggi. Saat jatuh, tangannya yang bergerak-gerak untuk meraih sesuatu akhirnya berhasil mencengkeram dahan pohon kecil. Alhasil, dia tergantung-gantung di sisi tebing yang terjal itu.

“Tolong! Tolooong!” teriak sang pendaki, “Siapa yang ada di atas sana?!”

Tiba-tiba terdengarlah suatu suara yang berat dan berwibawa, menggelegar dari langit, bergema di tebing terjal itu.

“Aku akan menolongmu, AnakKu. Tapi syaratnya, engkau harus percaya kepadaKu,” begitulah kata suara itu.

“Baik, aku percaya, aku percaya,” sahut sang pendaki gunung malang itu.

Lalu suara itu kembali berkata, “Kalau begitu, lepaskanlah tanganmu dari dahan itu.”

Si pendaki gunung itu tidak bereaksi. Tak lama kemudian, teriakannya terdengar lagi, “Tolooong! Siapa lagi yang ada di atas sana??”

Pengakuan Dosa Maling Ayam

Seorang pemuda mendatangi seorang pastor dan berkata, “Pastor, saya mau mengaku dosa. Saya telah mencuri seekor ayam dari ladang seseorang.”

Sang pastor menyahut, “Wah, tindakanmu itu salah besar.”

Pemuda itu pun berkata, “Maukah Pastor menerima ayam itu?”

“Tentu saja tidak!” sang Pastor langsung menolak mentah-mentah, “Kamu harus mengembalikan ayam itu kepada pemiliknya!”

“Tapi, Pastor,” kata sang pemuda dengan wajah memelas, “Pemiliknya menolak untuk menerima kembali ayam itu …”

“Oh,” sang pastor menggaruk-garuk kepalanya, “Yaa … kalau begitu, ambillah ayam itu.”

“Terima kasih, Pastor,” kata sang pemuda.

Ketika sang pastor pulang ke rumah, ia melihat jumlah ayam di kandangnya sudah berkurang.

Salah seekor di antara ayam itu hilang.