Burung Kakatua Yang Berdoa

Seorang pendeta membeli dua ekor burung kakatua jantan, dan mengajari mereka menirukan “Doa Bapa Kami”.

Setelah beberapa bulan melatih mereka dengan susah payah, akhirnya kedua burung itu mampu juga mengulangi “Doa Bapa Kami” itu dengan mata yang terpejam.

Sang pendeta yang girangnya bukan main terhadap keahlian baru burung-burung kakatua itu, kemudian memutuskan untuk membeli satu burung kakatua lagi, berniat untuk mengajarkan doa yang sama kepada satu ekor burung lagi.

Pendeta itu pun pergi ke pasar burung dan membeli seekor kakatua betina.

Sepulangnya dari pasar, si burung kakatua betina dimasukkan ke dalam sangkar besar yang sama, untuk bersama-sama dengan kedua burung terdahulu.

Ketika pintu kandang itu dibuka, kakatua yang satu berpaling kepada yang lain dan berkata kepada temannya itu, “Hey, kita tidak perlu lagi mengucapkan Doa Bapa Kami. Doa kita sudah dijawab!”

Saat-saat Terakhir

Seorang pembunuh berdarah dingin telah mendapat vonis hukuman mati dari pengadilan dan menjalani kurungan hingga tiba masa eksekusinya. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya tibalah gilirannya untuk menjalani hukuman.

Sang pembunuh itu pun didudukkan di kursi listrik untuk menjalani hukuman matinya. Sang pembunuh tampak gelisah dan mulai berkeringat dingin sambil sesekali melihat seorang pendeta yang berada tak jauh dari tempat eksekusi.

“Anda ada permintaan terakhir?” tanya sang pendeta, yang berpikir barangkali sang pembunuh masih butuh didoakan.

“Ada!” jawab sang pembunuh, “Saya nervous, Pak. Maukah Pak Pendeta memegang tanganku, pada menit-menit terakhir hidupku?”

Lampu Pesawat

Dodol baru pertama kalinya naik pesawat terbang. Kebetulan, dia mendapat tempat duduk dekat jendela di atas sayap.

Ketika pesawat lepas landas menembus kabut tebal dan terus naik, sang pilot membiarkan lampu jelajahnya tetap menyala. Dan ternyata, Dodol yang sedang memandang melalui jendela, melihat lampu yang berkelap-kelip di ujung sayap itu.

Kemudian Dodol pun membunyikan bel untuk memanggil pramugari.

Ketika pramugari datang, Dodol berkata kepadanya, “Maaf, Nona. Tolong beritahu si Pilot, dia lupa mematikan lampu sen kanan.”

Pertandingan Catur Internasional

Dalam kejuaraan catur Internasional, dua orang grandmaster sedang duduk berhadapan memeras otak, memikirkan langkah yang harus dijalankan. Ratusan penonton, para pendengar radio, dan para pemirsa televisi menanti-nantikan dengan sabar langkah berikutnya.

Berjam-jam semua menunggu, tetapi tidak terlihat gerakan apapun di papan catur.

Setelah lima jam berlalu semenjak langkah terakhir dijalankan, salah seorang grandmaster itu bertanya kepada lawannya, “Sebenarnya, sekarang giliran siapa ya?”

Sang lawan cengar-cengir dan menyahut, “Nah, saya baru saja mau menanyakan itu.”

Jaman Sekarang Serba Susah …

Jaman sekarang serba susah …

Mau nabung, nggak punya duit.
Mau kawin lagi, nggak ada yang mau.
Mau cari kerja baru, nggak ada lowongan.
Mau nerusin sekolah, IQ tiarap.

Mau piara ikan lohan, mahal biayanya.
Mau piara doberman, boros makannya.

Mau piara kambing, susah nemu rumputnya.
Mau piara gajah, susah kandangnya.

Mau piara kucing, berisik kawinnya.
Mau piara anjing, entar dikira saingan.

Mau piara karyawan, dapetnya yang kaya ginian,
kalo bukan buka Facebook, baca email, tukang ngeblog melulu …!

Pengendalian Amarah Dan Emosi

Di manapun kita berada, entah itu di lingkungan kerja, sekolah, universitas, keluarga, ataupun di area publik, dapat dipastikan kita akan selalu berinteraksi dengan orang-orang dari beragam latar belakang, dengan beragam karakter atau watak, dan mempunyai temperamen yang berbeda satu sama lainnya.

Dari interaksi dengan orang sekitar lingkungan kita, tentunya kita akan mengenali bahwa ada kekhasan masing-masing individunya. Jikalau kekhasan individu itu positif, patut disyukuri, karena banyak orang akan merasakan betapa menyenangkannya berinteraksi dengan individu yang demikian. Misalkan: penyegar suasana, humoris, pencinta damai, penyayang binatang, pencinta lingkungan, penyabar, penyemangat, pemberi motivasi, dan karakter positif lainnya.

Tetapi bagaimana jikalau kekhasan yang menonjol itu adalah bertemperamen tinggi, mudah tersinggung, mudah marah, mudah emosian, meledak-ledak? Otomatis individu yang seperti ini akan banyak dijauhi orang. Pada akhirnya, yang merasakan dampak ruginya adalah individu yang bersangkutan. Tentunya, kebanyakan dari kita berharap supaya jangan sampai menjadi seperti itu.
Continue reading →

Namanya Juga Ayam …

Alkisah, ada seekor ayam kampung dijual oleh pemiliknya ke pasar demi mendapatkan uang untuk membeli sembako.

Di pasar tersebut, sang ayam dibeli oleh seseorang yang kebetulan memiliki ayam bangkok jantan yang gagah. Niatnya sih, ayam kampung tadi akan dijadikan bibit karena body-nya itu bongsor dan bagus.

Sesampainya di rumah, si ayam kampung pun dilepaskan di pekarangan yang luas.

Sementara sang ayam kampung sedang melihat-lihat lingkungan barunya, tiba-tiba ada seekor ayam bangkok jantan yang berlari kencang mendekati dirinya.

Ayam kampung yang baru saja dilepas di pekarangan itu pun kaget dan lari secepat-cepatnya. Si ayam kampung lompat ke pagar, si ayam bangkok jantan ikut lompat. Si ayam kampung lompat ke jendela, si ayam bangkok jantan pun lompat juga.

Alhasil, aksi kejar-mengejar ini terus berlangsung sampai akhirnya si ayam kampung melihat tumpukan kayu dan segera nyelonong masuk ke dalam sana. Jadi, selamatlah dia.

Dengan terengah-engah, si ayam bangkok jantan itu berteriak, “Kurang ajarr, dasar kampungan!!! Keluar kau!!”

Sang ayam kampung, masih dari persembunyiannya, membalas berteriak, “Biarin saja!! Memang saya ini ayam kampung!!”