Isi Diary Seorang Suami

Beginilah isi diary seorang suami, yang kebetulan berhasil diintip seseorang.

Senin:

Seseorang sudah mencuri semua kartu kreditku, tapi aku tidak melaporkannya.
Maling itu tidak menguras uang sebanyak yang dikuras istriku.

Selasa:

Aku sudah menanyai istriku, “Sayang, tempat mana yang terbaik untuk merayakan hari ultah pernikahan kita?”
Lalu dijawab olehnya, “Cobalah tempat yang belum pernah saya kunjungi.”

Jadi akhirnya malam itu aku mengajak dia ke dapur.

Rabu:

Setiap kali bepergian, kami selalu bergandengan tangan.
Hari ini aku melepaskan tangannya.
Nggak tahunya dia langsung ngacir keliling Sogo.

Kamis:

Istriku paling senang membeli barang yang ditandai TURUN.

Dan hari ini, dia nyaris membeli sebuah eskalator. Duh!

Jumat:

Hobi istriku ini benar-benar BELANJA, BELANJA dan BELANJA melulu.

Minggu lalu dia jatuh sakit selama seminggu penuh.
Dan barusan aku dengar, empat butik langganannya akhirnya bangkrut.

Sabtu:

Istriku ini juga hobi mengoleksi barang-barang yang memakai tenaga listrik. Ada saja yang dibeli. Blender elektrik, panggangan elektrik, pemanas makanan elektrik, alat cukur elektrik, pokoknya semua yang serba listrik.

Tadi pagi dia tanya, “Mas, barang apa lagi ya yang belum saya miliki?”
Jadi akhirnya aku belikan dia sebuah kursi listrik!

Minggu:

Hari ini, istriku menelepon dan mengeluh. Katanya mobilnya tidak bisa jalan lagi.
Aku tanya apa penyebabnya, dan dia bilang ada air di karbulatornya.

Aku tanya mobilnya sekarang ada di mana.
Dia bilang nyemplung ke kali Ciliwung …

Kata-kata Yang Ingin Didengar

Tiga orang sobat lama mengalami kecelakaan lalu lintas sepulang merayakan pesta bujangan bagi salah seorang dari mereka. Rupanya mereka sudah minum-minum terlalu banyak, sehingga mereka terlalu mabuk untuk berkendara dengan baik. Singkat kata, mereka tiba di gerbang akhirat, dan seorang malaikat yang menyambut mereka di sana mengajukan sebuah pertanyaan.

Malaikat: “Kalau kalian bisa mendengar komentar orang-orang yang melayat kalian, apa yang ingin kalian dengar?”

Pria 1: “Saya ingin mendengar pujian terhadap karir saya sebagai seorang dokter, sekaligus tentang peranan saya sebagai ayah yang baik selama hidup saya.”

Pria 2: “Kalau saya, ingin mendengar mereka memuji betapa saya sudah menjadi seorang guru yang baik, yang telah memberikan pengajaran yang baik untuk masa depan murid-murid saya selama ini.”

Pria ketiga hanya diam saja. Sang malaikat pun bertanya kepada pria yang seharusnya menikah esok lusa itu.

Malaikat: “Kalau kamu bagaimana? Kok diam saja.”

Pria 3: “Saya tidak ingin dipuji. Saya ingin mereka berkata: ‘Hey lihat, akhirnya dia bergerak’.”

Pelajaran Bahasa: Definisi yang Benar

Pada suatu kelas dua SD, ada seorang guru Bahasa yang sedang mengajarkan kosa kata baru kepada murid-muridnya. Kali ini kata yang diajarkan adalah “benar-benar”, yang artinya adalah: “sungguh, positif, tak diragukan lagi”.

Sang ibu guru kemudian meminta beberapa muridnya untuk membuat contoh kalimat dengan menggunakan kata tersebut.

Murid 1: “Langit benar-benar biru.”
Ibu Guru: “Ya, itu memang kalimat yang baik. Tetapi kadang-kadang langit itu putih karena berawan, atau kelabu ketika mendung, atau kadang-kadang merah. Jadi tidak benar-benar biru. Ada lagi dari kalian yang bisa memberi contoh yang lain?”

Murid 2: “Air benar-benar jernih.”
Ibu Guru: “Ya, itu juga kalimat yang baik. Tetapi kadang-kadang air itu berlumpur, ada yang keruh, ada yang penuh dengan sampah. Jadi air tidak benar-benar jernih. Nah, siapa lagi yang bisa memberi contoh lainnya?”

Akhirnya, di pojok belakang kelas, Dodol pelan-pelan mengangkat tangannya.

Ibu Guru: “Ya? Silakan.”

Dodol: “Ibu, saya boleh bertanya dulu?”
Ibu Guru: “Ya.”

Dodol: “Apakah kentut itu ada gumpalannya?”
Ibu Guru: “Tidak. Kenapa?”

Dodol: “Wah … kalau begitu, saya benar-benar sudah buang air besar di celana.”

Reuni Dua Tukang Mabok

Pada suatu malam, Tuak dan Bejo, yakni dua orang sobat lama yang sudah lama tidak berjumpa, bertemu di suatu taman.

Tuak: “Jo, sobat lamaku, sudah lama tidak bersua.”
Bejo: “Betul, Wak. Senang sekali bisa bertemu lagi denganmu. Bagaimana kabarnya, Bro? Baik-baik saja?”

Tuak: “Baik-baik saja. Lho, mana anak dan istrimu? Tidak ajak mereka ke sini juga?”
Bejo: “Nah, itulah, Sobatku. Itu masalahnya. Aku masih bersedih karena dalam perjalanan pulang beberapa waktu lalu, kami mengalami kecelakaan. Anak dan istriku meninggal dunia, hanya aku yang tersisa …”
Continue reading →

Sudah Lewat

Suatu ketika, sedang ada pelajaran menggambar di suatu kelas sekolah dasar. Sang guru memberikan kebebasan bagi murid-muridnya untuk menentukan apa yang hendak mereka lukis.

Beberapa menit kemudian, sang guru mulai berjalan mengitari barisan bangku kelas. Ketika akhirnya berada di samping meja Dodol, sang guru mendapati Dodol sedang hanya memelototi kertas kosong.

Guru itu pun bertanya, “Kamu sedang menggambar apa, Nak?”

Sahut Dodol, “Pesawat terbang, Bu.”

Tanya sang guru lagi, “Lalu pesawat terbangnya mana?”

Dengan kalem Dodol menjawab, “Sudah lewat, Bu.”

Berobat Gigi Mahal …

Dodol menderita sakit gigi dan harus pergi ke dokter gigi. Berhubung ibunya sedang harus mengerjakan sesuatu, akhirnya Dodol pergi dengan diantar oleh sang pembantu.

Seusai berobat dan Dodol sudah pulang kembali ke rumah, klinik gigi itu mendapat telepon dari ibu Dodol. Sang ibu rupanya hendak memprotes karena ongkos berobat gigi anaknya yang sangat mahal, dan hendak menanyakan tentang hal itu.

Ibu: “Halo, Dokter. Saya ibunya Dodol, pasien yang datang tadi.”

Dokter: “Oh, iya Bu. Ada apa?”

Ibu: “Begini, biasanya kalau berobat ke dokter gigi tarifnya paling banter Rp. 50.000, tapi kenapa anak saya sampai Rp. 300.000? Mahal sekali!”

Dokter: “Ooh, itu. Tadi itu karena anak Ibu jerit-jerit keras sekali saat saya mengobatinya.”

Ibu: “Terus, memang apa masalahnya, Dok?”

Dokter: “Lima pasien saya yang tadinya antri menunggu giliran, akhirnya tidak jadi berobat karena ketakutan setelah mendengar jeritan anak Ibu.”

Ketika Detektif Conan dan Kindaichi Pergi Berkemah

Dua detektif muda Jepang yang terkenal, Conan dan Kindaichi pergi berkemah. Setelah makan-makan dan minum-minum, akhirnya mereka pun lelah dan tertidur.

Beberapa jam kemudian, Conan terbangun, dan dengan serta-merta ia menyikut sobat karibnya supaya bangun juga.

“Kindaichi, lihat ke langit di atas sana, dan beritahukan kepadaku apa yang kau lihat,” kata Conan.

Kindaichi menyahut, “Aku menyaksikan begitu banyak bintang di atas sana.”

“Jadi, menurutmu itu memberitahukan apa kepadamu?” tanya Conan.

Kindaichi termenung sesaat, lalu berkata, “Secara astronomi, itu memberitahukanku bahwa ada jutaan galaksi dan mungkin milyaran planet. Secara astrologi, aku amati bahwa Saturnus ada di dalam Leo. Secara ilmu waktu, aku menyimpulkan bahwa waktu sekarang sekitar jam 3 seperempat. Secara ilmu agama, aku bisa melihat bahwa Tuhan itu maha kuasa dan bahwa kita ini kecil dan tiada artinya. Secara meteorologi, aku menduga bahwa besok hari akan cerah. Apa yang diberitahukan pemandangan di atas itu kepadamu?”

Conan terdiam untuk sesaat, kemudian berkata, “Kindaichi, baka yaro (= dasar goblok lu). Seseorang sudah mencuri tenda kita!”

Perayaan Kawin Perak

Sepasang suami-istri yang sama-sama berusia 60 tahun, sedang merayakan ulang tahun perkawinan perak mereka. Berhubung ini di negeri antah-berantah, para peri turut diundang dalam pesta perayaan kawin perak yang besar-besaran itu.

Seorang peri kemudian tampil untuk memberikan ucapan selamat kepada mereka dan hendak mengabulkan permohonan mereka masing-masing satu permohonan.
Continue reading →

Praktikum Autopsi

Seorang profesor sedang memberikan pelajaran autopsi (bedah mayat) pertama kepada para mahasiswa kedokteran semester awal. Ia memutuskan untuk memberikan beberapa pelajaran dasar kepada mereka sebelum memulai praktikum itu.

“Dalam dunia kedokteran, kita harus punya dua kemampuan mendasar untuk melakukan suatu autopsi,” kata sang profesor, “Hal pertama adalah, kita harus tegar, tidak punya rasa takut ataupun jijik.”

Sambil berkata begitu, sang profesor mencolokkan jarinya ke dubur si mayat, menarik jarinya keluar, kemudian menjilat jarinya. Ia meminta semua mahasiswa yang hadir untuk melakukan hal yang sama dengan mayat-mayat di depan mereka masing-masing. Setelah hening selama beberapa saat, dengan sangat terpaksa mereka mengikuti perintah yang menjijikkan itu.

“Hal kedua adalah bahwa kita harus punya pengamatan yang sangat cermat,” kata sang profesor lagi, “Berapa banyak dari Anda sekalian yang menyadari bahwa saya tadi mencolokkan jari tengah ke dubur si mayat, tetapi saya menjilat jari telunjuk saya?”

Setelah kelas praktikum usai, petugas kebersihan membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk mengepel seluruh sisa muntahan di lantai ruangan praktikum tadi.