Pendeta vs Petugas Parkir

Suatu hari, seorang pendeta meninggalkan pesan pada secarik kertas yang diselipkan di antara kaca dan “wiper” mobilnya. Pesan itu berbunyi seperti ini:

Sudah sepuluh kali saya berkeliling blok ini, tidak ada tempat parkir yang saya temukan, maka saya terpaksa parkir di sini.
Ampunilah kami akan segala kesalahan kami.

Ketika sang pendeta kembali ke mobilnya, ternyata ada secarik kertas berisi pesan balasan dari petugas parkir di tempat yang sama. Pesan itu berbunyi demikian:

Sudah sepuluh tahun saya bekerja di sini. Apabila saya tidak memberikan surat tilang parkir kepada Anda, maka saya akan dipecat.
Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.

Cara Seorang Suami Mengendalikan Emosi

Pada suatu hari, seorang istri berbincang-bincang dengan suaminya mengenai kemampuan sang suami mengendalikan emosinya.

Istri: “Pah, saat aku marah-marah sama kamu, tidak sekalipun kamu pernah melawan aku. Caranya bagaimana sih mengendalikan kemarahanmu? Kok bisa lho, mengendalikan emosi dan sebegitu sabarnya?”

Suami: “Bisa saja, Mah. Setiap kali Mamah marah sama aku, ya aku langsung pergi membersihkan toilet.”

Istri: “Kok, apa kaitannya membersihkan toilet dengan mengendalikan emosi?”

Suami: “Ada kaitannya. Yang aku pakai untuk membersihkan toilet adalah sikat gigimu.”

Membohongi Ibu

Bejo yang sudah hidup mandiri dan terpisah dari orang tuanya, suatu hari mengundang ibunya untuk makan malam di apartemennya. Sewaktu makan, sang ibu selalu memperhatikan teman se-apartemen anaknya itu, yakni Juleha, seorang perempuan yang cukup cantik.

Sang ibu juga sudah lama curiga tentang adanya hubungan istimewa antara Bejo dan teman se-apartemennya itu. Karena itulah, saat-saat makan malam, keingintahuan sang ibu semakin bertambah apalagi saat melihat Bejo dan Juleha tampak akrab. Ditambah lagi, hingga malam hari, sang ibu tidak putus-putusnya mengamati interaksi antara kedua orang muda itu. Dan sang ibu pun mulai bertanya-tanya status hubungan antara kedua anak muda itu.

Bejo sepertinya bisa membaca pikiran sang ibu, jadi Bejo pun berkata, “Mam, saya bisa tebak isi pikiran Mam. Jangan kuatir. Saya dan Juleha cuma teman biasa.”

Pekan berikutnya, Juleha mulai mengeluh kepada Bejo, “Sejak ibumu datang makan malam itu, aku tidak bisa menemukan sendok perak itu. Bukan ibumu yang ambil, kan?”

Bejo menjawab, “Aku ragu soal itu. Tapi nanti akan aku pastikan.”

Lalu Bejo menulis e-mail kepada ibunya yang bunyinya seperti ini:

Dear Mam,

Bejo tidak bilang Mam “mengambil” sendok perak dari apartemen Bejo. Dan Bejo juga tidak mengatakan Mam “tidak mengambil” sendok itu.
Tetapi faktanya adalah bahwa sendok itu raib sejak Mam datang makan malam di sini.

from Bejo,
your son.

Dua hari kemudian e-mail balasan dari sang ibu pun datang ke inbox Bejo. Bunyinya begini:

Bejo putraku sayang,

Mam tidak bilang bahwa kau “tidur” dengan Juleha, dan Mam juga tidak bilang bahwa kau “tidak tidur” dengan dia.
Tetapi faktanya adalah bila Juleha tidur di tempat tidurnya sendiri, dia akan menemukan sendok perak itu.

from your Mam.

E-mail Salah Alamat

Seorang pengusaha dan istrinya memutuskan untuk berlibur ke pantai terkenal. Berhubung istrinya masih berada dalam perjalanan bisnis, sang istri berencana untuk menyusul pada keesokan harinya, jadi sang suami pun berangkat menuju tempat berlibur lebih awal.

Sesampainya di hotel, sang suami memutuskan untuk mengirimkan e-mail untuk mengabari istrinya. Karena tidak berhasil menemukan catatan memo berisi alamat e-mail istrinya, akhirnya sang suami ini mencoba menerka-nerka alamat e-mail istrinya dan langsung mengirimkannya.
Continue reading →

Pentingnya Menguasai Bahasa Lain

Suatu ketika, seekor tikus sedang lari karena dikejar-kejar oleh seekor kucing jantan yang galak dan licik.

Setelah berhasil menyembunyikan diri, sang tikus tidak berani keluar dari lubang persembunyiannya karena sang kucing jantan masih menunggunya di ujung lubang.

Satu jam pun berlalu setelah sang tikus berdiam di tempat persembunyian itu. Setelah lama menunggu, suara kucing tidak terdengar lagi dan kini hanya terdengar suara kokok ayam jantan.

Setelah celingak-celinguk ke kanan-kiri, sang tikus pun berpikir, “Bahaya sudah berlalu. Seharusnya aku sudah bisa keluar sekarang.” Lalu sang tikus pun keluar perlahan-lahan dari tempat persembunyiannya.

Tanpa disangka-sangka, ternyata sang kucing jantan itu masih sabar menunggunya di luar. Kali ini bahkan ada satu ekor kucing kecil yang turut menunggu di sana.

Sang tikus panik, tetapi sudah terlambat. Dengan sigap sang kucing pun berkelebat dan berhasil menyambar tikus itu. Sementara itu, kucing kecil yang menonton pun bersorak-sorak kegirangan melihat pemandangan itu.

Kucing jantan dewasa itu kemudian menoleh kepada sang anak kucing sambil berkata, “Nah, sudah lihat kan? Menguasai bahasa lain akan mendatangkan keuntungan.”

Ketika Betet Kurang Ajar Diberi Pelajaran …

Bejo, baru saja membeli burung betet dari toko hewan. Tadinya dia sangat tertarik pada si betet. Tetapi ketertarikannya akhirnya hilang saat si betet mengucapkan kata-kata kotor.

Terobsesi untuk mengajari sang betet ke “jalan yang benar”, ia pun mencoba mengajak bicara sang betet itu dengan kosa kata yang halus, namun kata-kata kotornya sang betet malah semakin menjadi-jadi.

Akhirnya, berhubung saking jengkelnya, Bejo akhirnya memasukkan sang betet ke lemari es.

Dan memang, si betet segera berhenti mengoceh.

Beberapa saat kemudian, Bejo kembali membuka lemari es itu. Sang betet pun berjalan keluar, dan kali ini dengan sopan ia bertanya, “Jika aku boleh tanya, apa sih kesalahan kalkun yang ada di lemari es ini?”

Ketika Suami Tidak Suka Kucing

Bejo sedari dulu memang tidak menyukai kucing. Tetapi berhubung dia ingin berhasil dalam usahanya mengejar-ngejar sang idola kampus untuk menjadi pacarnya, ya mau tak mau pura-pura menyukai kucing sang mahasiswi itu juga, sampai akhirnya sukses juga mempersunting sang idola kampus menjadi istrinya.

Cerita berlanjut ketika mereka sudah berumah tangga, Bejo menjadi semakin benci kepada kucing, karena ia merasa istrinya masih lebih perhatian kepada kucingnya daripada dirinya.

Suatu hari, Bejo pun memutuskan untuk membuang kucing tersebut secara diam-diam. Ketika istrinya sedang mandi, ia pamit pergi keluar sebentar dan si kucing turut diculiknya keluar. Ia pun mengendarai mobil belasan kilometer dari rumah, demi membuang kucing tersebut. Anehnya, ketika ia sampai di rumah, si kucing sudah ada di sana dan duduk di sofa dengan manisnya. Bejo terheran-heran bercampur berang.

Sore harinya ia mencoba kembali membuang sang kucing. Kali ini si kucing ditinggalkan di tempat yang lebih jauh lagi. Tetapi lagi-lagi, sesampainya di rumah, kucing istrinya telah berada di sana dan kali ini sedang asyik tidur di atas TV mereka.

Bejo menjadi semakin penasaran. Akhirnya ia mencoba lokasi yang lebih jauh lagi, lebih jauh lagi, tapi tetap saja si kucing kembali ke rumah, malah lebih dulu sampai rumah ketimbang dirinya.

Akhirnya tiba pada suatu hari, ketika kekesalannya memuncak, Bejo kembali membawa sang kucing itu, bukan hanya lebih jauh lagi tetapi juga berputar-putar dulu, sebelum akhirnya membuang kucing yang dibawanya.

Beberapa jam kemudian, Bejo menelepon istrinya dari mobil.

“Ni, kucingmu ada di rumah?” tanya Bejo.

“Ada,” jawab sang istri terheran-heran, “Kenapa memangnya? Tumben-tumbenan nanya si Manis segala.”

Bejo meradang lalu berbicara lagi, “Panggil dia Ni, aku mau tanya jalan pulang. Aku kesasar …!!”

Menghargai Diri Sendiri dan Segala Sesuatu yang Masih Dimiliki

Ada orang yang mengatakan begini: Cara dan sikap hidup seseorang sebenarnya merupakan cerminan dari seberapa besar penghargaannya terhadap segala sesuatu yang masih dimilikinya dalam hidup ini, termasuk penghargaannya terhadap dirinya sendiri.

Kalau direnungkan kembali, benar juga kata-katanya.

Contoh sederhana mungkin bisa dilihat dari kehidupan seorang siswa. Misalnya, siswa ini akan menempuh ujian yang akan menentukan kelulusannya. Lalu bagaimana dia menjalaninya berdasarkan penghargaannya terhadap diri sendiri dan hal-hal yang masih dimilikinya?
Continue reading →

Kura-kura dan Pohon

Seorang pertapa yang sedang refreshing keluar dari gua pertapaannya, sedang mengamati sesuatu yang menarik perhatiannya. Berhubung ilmu pertapaannya sudah tinggi, ia juga sudah mencapai taraf di mana ia mampu memahami bahasa binatang.

Adapun yang menarik perhatian sang pertapa adalah seekor kura-kura kecil di dekat sebuah pohon. Sang kura-kura kecil sedang mencoba memanjat sebuah pohon dengan perlahan-lahan.

Setelah selama berjam-jam mencoba, sang kura-kura akhirnya sampai ke puncak, kemudian melompat sambil mengepakkan kaki-kakinya. Akhirnya ia jatuh dengan keras ke tanah, lalu terdiam sesaat. Mungkin pingsan.

Beberapa saat kemudian, ia bangkit dan memanjat lagi … lompat lagi, lalu jatuh lagi.

Kura-kura itu terus mencoba dan mencoba, sementara sepasang burung di atas pohon mengamati kura-kura itu dengan penuh rasa iba.

Kemudian burung betina berkata kepada suaminya, “Sayang, saya rasa inilah saatnya untuk memberitahu kura-kura kecil kita bahwa dia sebenarnya adalah anak adopsi.”

Menguping Percakapan Para Tikus

Pada suatu malam, seorang pertapa yang sedang mencari udara segar memutuskan untuk berjalan-jalan di luar gua pertapaannya. Ketika tiba di pinggir hutan, di dekat sebuah selokan ada seekor ibu tikus dan seekor anak tikus yang sedang bercakap-cakap.

Berhubung sang pertapa sudah cukup sakti, ia sudah mencapai tahap memahami percakapan para binatang. Jadi ia pun menguping …

Sampai akhirnya, tiba-tiba seekor kelelawar terbang di atas. Topik sang anak tikus berubah. Kemudian sang anak tikus bertanya kepada ibunya, “Ibu, apa itu yang di atas tadi?”

Sang ibu tikus melihat kembali ke atas dan menjawab, “Ooh, itu kelelawar namanya …”

Sang anak tikus terheran-heran, lalu bertanya lagi, “Tapi kok wajahnya mirip kita?”

Sang ibu tikus pun menjawab, “Sebenarnya kelelawar itu masih sebangsa dengan kita, tapi dia ambil jurusan penerbangan.”